Lewati ke konten utama

Kebangkitan Figuran — Chapter 455

Kebangkitan Figuran

Chapter 455

Bab 455: Alyssara Velcroix (2)

Gadis itu balas menatapku dari cermin, rambut merah mudanya terurai di bahunya seperti air terjun berwarna mawar, matanya berwarna biru kehijauan seperti kaca dengan sedikit nuansa hijau—akrab namun aneh.

Aku adalah Alyssara Velcroix, Penasihat Utama Penguasa Istana Matahari Laut Selatan, pemegang kekuatan yang membuat para Immortal gemetar, Pemimpin Sekte Cawan Merah.

Aku juga…orang lain.

Tanganku menekan permukaan cermin yang dingin, seolah mencoba menjangkau diriku yang lain yang melayang di tepi kesadaranku. Kenangan itu datang dalam fragmen-fragmen akhir-akhir ini—adegan-adegan yang terputus-putus, emosi tanpa konteks, wajah bermata biru yang membuat hatiku sakit karena kerinduan yang tak bisa kupahami.

Arthur Nightingale.

Namanya menimbulkan riak di benakku, mengganggu keteraturan yang telah kujaga selama beberapa dekade. Ketika aku menatapnya, sesuatu di dalam diriku mengenalinya—bukan sebagai mangsa, bukan sebagai bidak catur, tetapi sebagai sesuatu yang penting yang telah hilang dariku.

“Konyol,” bisikku pada bayanganku di cermin. “Kau adalah Alyssara Velcroix. Kau tidak tunduk pada siapa pun.”

Namun kenangan itu tetap ada, semakin kuat setiap hari sejak kedatangannya. Aku memejamkan mata, membiarkan kenangan itu muncul ke permukaan, penasaran apa yang mungkin akan terungkap hari ini.

Sebuah gedung pemerintahan yang steril. Lampu neon memancarkan bayangan yang tajam. Arthur duduk di seberangku di meja logam, ekspresinya sulit dibaca, penuh perhitungan. Kecerdasannya sangat terasa—seorang jenius yang tenang dan teguh, yang cara berpikirnya membuatku terpesona bahkan di usia lima belas tahun. Agensi telah mengirimku untuk merekrutnya, tetapi sesuatu yang tak terduga terjadi. Aku melihat melampaui pikirannya ke sesuatu yang lebih dalam—sesuatu yang membuat hatiku yang masih muda berdebar ketika matanya bertemu dengan mataku.

Aku membuka mata, napasku semakin cepat. Itu bukan ingatanku. Tidak mungkin. Aku belum pernah bekerja untuk agensi mana pun, belum pernah ditugaskan untuk merekrut siapa pun. Namun, aku ingat rasa gugup saat bersiap bertemu dengannya, berkas yang telah kuhafal yang merinci pencapaian luar biasanya, dan bagaimana atasan-atasanku menekankan pentingnya dia bagi pekerjaan kami.

Kenangan itu menjadi semakin detail, semakin spesifik. Bukan lagi sekadar emosi atau kilasan ingatan, tetapi adegan lengkap dari kehidupan yang belum pernah saya jalani. Kehidupan sebagai seseorang bernama Emma Cassel.

Emma.

Nama itu terasa aneh di lidahku, namun familiar. Itu membuatku gelisah, invasi diri oleh orang lain. Aku adalah Alyssara, dibentuk oleh darah dan kekejaman, ditempa dalam api dan bayangan. Kenangan akan keteraturan terstruktur dan kegilaan remaja itu tidak memiliki tempat dalam diriku.

Namun mereka tetap bertahan, semakin kuat setiap harinya, setiap kali bertemu dengan Arthur.

Aku menjauh dari cermin, menuju kamar pribadiku tempat buku-buku kuno terbuka di mejaku. Penelitian tentang ingatan, perpindahan jiwa, reinkarnasi—topik yang selama ini kuanggap tidak relevan. Tak satu pun di dalamnya menjelaskan apa yang terjadi padaku, keretakan identitas yang perlahan ini.

Kemudian, ingatan yang berbeda muncul—bukan masa lalu Emma, melainkan awal mula kelamku sendiri.

Aku berumur tujuh tahun, berdiri di sebuah ruangan remang-remang di bawah rumah besar ayahku. Tangan kecilku digenggam oleh tangannya yang lebih besar saat ia menuntunku maju, suaranya lembut namun tegas.

“Kau harus belajar, mawar kecilku, apa arti cinta sejati,” katanya, sambil menuntunku menuju sebuah sangkar besi besar.

Di dalam, seorang wanita menangis—tetap cantik meskipun air matanya mengalir, rambut panjangnya kusut di sekitar wajahnya. Dia mendongak saat kami mendekat, matanya menatap mataku dengan intensitas yang penuh keputusasaan.

“Alyssara,” bisiknya. “Gadisku tersayang.”

Genggaman ayahku mengencang menyakitkan di tanganku. “Ibumu telah membuat pilihan yang buruk, Alyssara. Dia pikir dia bisa meninggalkan kita. Meninggalkan aku.”

Wanita itu—ibuku—menggelengkan kepalanya dengan panik. “Revan, kumohon. Jangan di depannya. Dia terlalu muda untuk ini.”

Ayahku berlutut di sampingku, membalikkan badanku agar menghadapnya. Matanya, yang sangat mirip dengan mataku, menyala dengan sesuatu yang membuatku takut sekaligus terpesona. “Dia tidak pernah terlalu muda untuk belajar tentang cinta. Cinta sejati. Cinta yang melahap segalanya.”

Dia menjentikkan jarinya, dan dari balik bayangan muncul dua sosok, terikat dan disekap. Seorang pria dan wanita lanjut usia, mata mereka terbelalak ketakutan. Ibuku menjerit, menerjang jeruji kandangnya.

“Tidak! Kumohon, jangan! Bukan orang tuaku!”

Tangan ayahku menempel di bahuku, hangat dan berat. “Perhatikan baik-baik, Alyssara. Inilah yang terjadi ketika seseorang yang kau cintai mencoba melarikan diri. Kau singkirkan semua ikatan lain yang mereka miliki. Kau jadikan dirimu seluruh dunia mereka. Begitulah cara cinta bertahan.”

Apa yang terjadi selanjutnya adalah pelajaran tentang darah dan jeritan, tentang kekuasaan dan kepemilikan. Orang tua ibuku meninggal perlahan, hidup mereka padam saat dia menyaksikan, tak berdaya untuk ikut campur. Ketika semuanya berakhir, sesuatu telah hancur dalam dirinya—cahaya yang padam, digantikan oleh kepatuhan yang hampa.

“Kau mengerti sekarang, mawarku?” tanya ayahku, sambil menyeka darah dari tangannya. “Dia tidak akan pernah mencoba pergi lagi. Dia tidak punya apa-apa lagi selain aku. Itulah cinta dalam bentuknya yang paling murni—kepemilikan sepenuhnya.”

Aku tersentak, ingatan itu memudar seperti gelombang pasang yang meninggalkan cangkang-cangkang bergerigi di pantai. Pelajaran dari ayahku terus berlanjut sepanjang masa kecilku—pelajaran tentang pengendalian, tentang menghancurkan daripada memelihara, tentang menyamakan cinta dengan kekuasaan mutlak.

Kenangan seperti itu seharusnya membawa rasa malu, kengerian, atau penyesalan. Sebaliknya, kenangan itu terjalin dengan kenangan Emma tentang Arthur, menciptakan sesuatu yang baru dan mengerikan. Keinginan bukan hanya untuk terhubung tetapi untuk memiliki. Cinta yang terdistorsi oleh ajaran ayahku namun diwarnai dengan emosi tulus Emma.

Aku menginginkan Arthur. Bukan hanya secara fisik, bukan hanya secara emosional, tetapi sepenuhnya. Aku ingin memilikinya, menghancurkannya, membentuknya kembali sesuai dengan keinginanku. Untuk menjadikannya milikku dengan cara yang melampaui pemahaman normal tentang kata tersebut.

“Ini tidak benar,” bisikku, suara Emma sesaat lebih kuat dari suaraku sendiri. “Bukan seperti inilah seharusnya cinta.”

Namun pengaruh Emma terfragmentasi, melemah karena puluhan tahun yang telah kuhabiskan sebagai Alyssara. Kenangannya menawarkan sekilas gambaran tentang keterikatan yang lebih sehat—perasaan cinta pertama di usia lima belas tahun, menyaksikan Arthur memecahkan masalah yang tidak dapat dipecahkan orang lain, kebanggaan yang tenang ketika dia mengakui wawasan Emma meskipun usianya masih muda—tetapi itu tidak dapat mengalahkan sifat mendasar yang telah ditanamkan ayahku dalam diriku.

Aku mendekat ke jendela, menatap Matahari Merah yang tergantung di langit malam. Cahaya merahnya menyinari kulitku, mengingatkanku akan kekuatan yang kumiliki, sekte yang tunduk pada kehendakku, para vampir yang takut dan menghormatiku.

Ingatan lain muncul—lebih baru, percakapan yang tak sengaja didengar antara Raja Vampir dan Cassius.

“Gerbang Transendensi,” kata Sang Raja, suaranya lemah namun penuh tekad. “Gerbang itu ada di luar batas peringkat High Radiant. Gerbang itu adalah ambang batas antara sekadar kuat dan benar-benar ilahi.”

Cassius mencemooh. “Itu hanya mitos. Tak seorang pun pernah menentang mereka dalam sepuluh ribu tahun.”

“Karena tak seorang pun memiliki kemampuan mentah itu,” jawab Raja. “Bahkan aku pun tak bisa menandingi mereka. Tapi ada satu di antara kita yang mungkin bisa.”

Gerbang Transendensi. Studi saya baru-baru ini telah mengungkap referensi tentangnya—sebuah ambang batas yang memisahkan para Radiant peringkat tertinggi dari mereka yang telah naik ke tingkat pseudo-dewa. Bukan penghalang filosofi atau keterpisahan, tetapi penghalang kekuatan dan kemauan yang luar biasa.

Sekarang aku mengerti mengapa aku tertarik pada Arthur, mengapa kenangan tentang Emma ini muncul kembali. Itu adalah ujian—tantangan yang harus diatasi. Jika aku bisa memanfaatkan cinta murni dan muda yang Emma rasakan untuk Arthur dan mengubahnya menjadi obsesi yang menguasai seperti yang diajarkan ayahku, aku akan memicu peningkatan kekuatanku dengan emosi yang paling kuat.

Arthur adalah kunci saya menuju Gerbang Transendensi. Dengan menghancurkannya, dengan menguasainya sepenuhnya, saya akan mencapai apa yang bahkan Raja Vampir pun tidak bisa capai. Saya akan melewati gerbang itu melalui kemampuan saya sendiri, yang diperkuat oleh kemurnian cinta Emma yang dirusak oleh kehendak saya.

Kesadaran itu mengirimkan gelombang kegembiraan ke seluruh tubuhku, sebuah kepastian yang mengkristalkan pikiran-pikiran kacauku menjadi satu tujuan tunggal. Aku telah mengatur agar Arthur mengakses ruang utama malam ini, untuk menemukan Raja Vampir. Apa yang terjadi setelahnya akan menentukan nasib kami berdua.

Jika Arthur mencoba mengungkap apa yang telah ia temukan, aku harus bertindak cepat. Ritual untuk menyerap kontrak darahku dengan Raja Vampir sudah disiapkan. Dalam keadaan lemahnya, dia tidak bisa mencegahku mengambil apa yang memang hakku—kekuasaan, kultus, masa depan.

Dan Arthur? Arthur juga akan menjadi milikku. Bukan sebagai penasihat, sekutu, atau bahkan kekasih dalam arti konvensional. Dia akan menjadi milikku, penaklukanku, bukti hidup bahwa aku memiliki kemampuan untuk melewati Gerbang yang bahkan Raja Vampir pun tidak bisa lewati.

Kenangan Emma membisikkan protes—hati gadis lima belas tahun yang penuh semangat itu, terbuka dan rentan, melihat dalam diri Arthur bukan hanya kejeniusannya tetapi juga kemanusiaannya. Tetapi protes itu semakin melemah di hadapan gelombang tekadku.

“Maafkan aku, Emma,” bisikku pada suara yang hancur di dalam diriku. “Tapi inilah aku sekarang. Inilah arti cinta bagiku.”