Bab 202 Istana Es Laut Utara (3)
“Mama, aku bosan!”
Seorang gadis kecil setengah elf merengek, berpegangan erat pada kaki ibunya, tangan mungilnya mencengkeram kain jubah yang berkibar dan rumit.
Ibunya—tinggi, anggun, dan tenang tanpa usaha—menatap ke bawah dengan tatapan yang tidak hangat maupun dingin, berada di antara sedikit kekesalan dan kesabaran yang tertahan.
“Ada apa, Seraphina?” tanyanya.
“Aku ingin melihat sesuatu yang menyenangkan!” Seraphina mendengus, menyilangkan tangannya seperti anak kecil yang tidak sabar.
“Matahari sudah terbenam,” kata ibunya. “Sebentar lagi waktunya kamu tidur.”
“Aku belum mau tidur!”
Terjadi jeda yang cukup lama. Kemudian, akhirnya, ibunya menghela napas, jenis desahan yang berasal dari seseorang yang telah bertahun-tahun menyeimbangkan peran sebagai Tuan Istana dan Orang Tua tanpa benar-benar kehilangan akal sehatnya.
“Lalu,” katanya sambil menggendong Seraphina, “aku akan menunjukkan sesuatu yang menyenangkan padamu.”
Seraphina menggeliat protes—ia terlalu tua untuk digendong!—tetapi saat mereka bergerak, keluhannya mereda. Orang-orang membungkuk saat ibunya lewat, para prajurit dan penyihir sama-sama menundukkan kepala sebagai tanda hormat kepada Nyonya Istana Es Laut Utara.
Kemudian-
Dia tersentak.
Mulutnya ternganga. Protesnya lenyap.
Langit menjadi gelap, tetapi dunia menjadi terang benderang.
Makhluk-makhluk bercahaya melayang lembut di udara, cahaya sian mereka berkedip-kedip seperti bintang-bintang kecil yang tertangkap. Ratusan, mungkin ribuan, dari mereka.
Lalat es.
Mata Seraphina—lebar dan bersinar—memiliki warna biru yang sama persis dengan cahaya yang mengelilinginya.
“WOW!”
Ibunya memperhatikan, senyum kecil yang hampir tak terlihat tersungging di bibirnya.
“Cantik, bukan?” tanyanya.
Seraphina mengangguk dengan penuh semangat, kegembiraannya meluap-luap.
“Ini hanyalah salah satu keajaiban Istana Es Laut Utara,” kata ibunya, menatap putrinya. Pada saat itu, dinginnya tatapan matanya mencair, sedikit saja. Sebuah momen kehangatan langka yang tidak selalu bisa ia dapatkan sebagai Penguasa Istana.
Seraphina tersenyum lebar padanya. “Aku akan selalu mengingat pemandangan ini, Ibu!”
Namun, ingatan adalah hal yang kejam.
Ia bisa memudar. Ia bisa terkubur. Ia bisa dicuri.
“Ayah?” Seraphina berdiri di Sekte Gunung Hua, kecil dan bingung.
“Ibu di mana?”
Li Zenith berlutut di depannya, posturnya kaku, kepalanya tertunduk, beban berat menekan tulang punggungnya.
Seraphina menatapnya, menunggu jawaban.
“Ayah bilang Ibu akan ikut bersamamu!”
Ayahnya tidak berbicara.
Bibirnya terkatup rapat, bahunya menegang—hanya sesaat—sebelum dia mengulurkan tangan dan dengan lembut menepuk kepalanya.
“Ibu…” katanya, suaranya lebih pelan dari yang pernah didengar Seraphina. “Ibu sudah pergi ke tempat yang lebih baik sekarang.”
Seraphina mengerutkan kening. “Kalau begitu—aku ingin mengunjunginya!”
Napas ayahnya tercekat. Tangannya gemetar, hampir tak terlihat. Kemudian, tanpa peringatan, dia menariknya ke dalam pelukan erat, mendekapnya erat-erat.
“Kumohon, Sera,” bisiknya, suaranya serak. “Jangan pernah mengatakan itu. Kau tidak bisa… kau tidak bisa mengunjunginya.”
Seraphina tidak mengerti. Belum.
Namun, sebentar lagi, dia akan melakukannya.
Ibunya telah meninggal.
Dan semuanya berubah.
Ayahnya, Pemimpin Sekte Gunung Hua, mengundurkan diri.
Darinya. Dari sekte itu. Dari segalanya kecuali latihan. Dia mengubur dirinya dalam latihan, mendorong dirinya melewati batas kemampuannya, mengejar satu obsesi—melampaui Raja Bela Diri.
Kemudian muncullah Matahari Zenith.
Seorang anak ajaib. Bakat yang terlalu cemerlang untuk diabaikan. Li Zenith mengadopsinya, menerimanya, membesarkannya sebagai anaknya sendiri.
Dan Matahari?
Dia membenci Seraphina.
Itu tidak terjadi seketika. Tidak pada awalnya. Tetapi rasa dendam itu membusuk, dan tak lama kemudian, beban ekspektasi, benturan bakat, dan keniscayaan persaingan mereka mengubah ketidaksukaannya menjadi sesuatu yang lebih buruk.
Seraphina belajar.
Dia menyadari bahwa kehangatan itu bersifat sementara. Bahwa kepercayaan bisa pudar. Bahwa kehilangan adalah beban yang harus dipikulnya sendirian.
Jadi dia menjadi kedinginan.
Karena apa lagi yang bisa dia lakukan?
Seraphina menatap Arthur.
Awalnya, dia mengira pria itu hanya menyuruhnya membuka mata—untuk melihat kunang-kunang es, untuk mengingat apa yang telah dia lupakan.
Tapi kemudian dia melihatnya.
Arthur tidak hanya memperhatikan kunang-kunang es itu.
Dia sedang memikirkan hal lain.
Dia sedang mengingat hal lain.
Dan apa pun itu—rasanya sakit.
Seraphina selalu pandai membaca karakter orang. Itulah mengapa Arthur sangat memikatnya. Dia bukan orang yang mudah ditebak, tetapi jika diperhatikan dengan saksama, celah-celahnya akan terlihat.
Dan sekarang?
Dia bisa merasakannya.
Rasa sakit yang disembunyikan Arthur… itu lebih buruk daripada rasa sakit yang dialaminya.
“Arthur,” kata Seraphina, suaranya pelan, namun tegas.
Arthur menghela napas, menatap ke atas ke arah cahaya cyan yang melayang, tangannya dimasukkan ke dalam saku.
“Ingatan itu hal yang aneh, Seraphina,” katanya. “Kita manusia suka berpikir kita mengingat hal-hal sebagaimana adanya. Tapi sebenarnya tidak. Kita bias. Ingatan kita terdistorsi, berubah, dan bergeser di bawah beban emosi. Kita melupakan hal-hal yang ingin kita ingat, dan kita mengingat hal-hal yang ingin sekali kita lupakan.”
Seraphina mengerti.
Ia masih muda ketika ibunya meninggal—terlalu muda untuk mengingat setiap detailnya—tetapi kenangan tentang pemakaman itu? Itu tidak pernah pudar. Kenangan itu tajam. Jelas. Sebuah luka yang telah ia bawa selama bertahun-tahun.
“Tapi pada akhirnya,” kata Arthur, akhirnya menatapnya. Ada sedikit senyum di wajahnya, tapi tidak sampai ke matanya. “Bukankah kenangan adalah bukti?”
“Bukti?” tanyanya lagi.
“Bukti bahwa kita pernah hidup,” kata Arthur. “Bukti bahwa kita pernah merasakan. Sekalipun ingatan kita tidak sempurna, sekalipun dibentuk oleh emosi, ingatan itu tetap milik kita. Ingatan itu menunjukkan kepada kita di mana kita pernah berada, apa yang telah kita lalui. Siapa kita sekarang, dan akan menjadi apa kita di masa depan.”
Jari-jari Seraphina sedikit melengkung.
Suara Arthur tenang, mantap—tetapi ada sesuatu di baliknya. Sesuatu yang lebih dalam.
“Jadi, Seraphina,” katanya, tatapannya mantap dan tak tergoyahkan. “Jangan lupakan mereka. Jangan kubur mereka. Di dunia ini, hal terbaik yang bisa kau lakukan adalah mengingat orang-orang yang perlu diingat.”
Dia mengamatinya cukup lama, serangga-serangga es berkelap-kelip di sekitar mereka, cahaya lembutnya terpantul di mata mereka berdua.
Dan kemudian, akhirnya—
Dia mengangguk.
“Bahkan sekarang, kau adalah Istana Es Laut Utara,” kata Arthur, melangkah lebih dekat. Suaranya tenang, ekspresinya sulit ditebak—kecuali sedikit lengkungan senyum. “Bahkan sekarang, kau masih gadis setengah elf kecil yang bermain di salju di sini, yang terengah-engah melihat kunang-kunang es, yang mencintai pulau ini seolah-olah itu bagian dari dirinya. Itu tidak akan pernah berubah.”
Seraphina menatapnya, napasnya mengepul di udara yang dingin.
“Arthur,” gumamnya. “Aku… aku tidak mengerti.” Jari-jarinya sedikit melengkung, menggenggam sesuatu yang kosong. “Aku melihatmu, dan aku rasa aku punya firasat. Kau telah banyak menderita. Namun, kau tersenyum. Kau memanipulasi orang, namun kau sangat peduli. Bagaimana? Bagaimana kau bisa seperti ini?”
Ekspresi Arthur tidak berubah. Malahan, senyumnya semakin lebar, tetapi ada sesuatu yang tak terbaca di baliknya. Sesuatu yang jauh.
“Seseorang pernah berkata padaku,” katanya, “jangan pernah berhenti menjadi manusia. Jangan pernah berhenti merasakan. Jangan pernah berhenti hidup.” Dia menghembuskan napas pelan, hawa dingin merenggut napasnya seperti bisikan. “Jadi, aku melakukannya. Selama aku hidup, aku merasakan. Aku mungkin memanfaatkan orang lain untuk melindungi orang-orang yang kusayangi, tetapi aku juga yang akan melindungi mereka ketika aku mampu.”
Tetap terhubung dengan My Virtual Library Empire.
Seraphina tidak mengalihkan pandangannya.
Kebenaran.
Segala sesuatu dalam dirinya mengatakan bahwa dia tidak berbohong. Setiap insting, setiap pengamatan, setiap momen tenang yang dia habiskan untuk mengamatinya, mencoba mengungkap apa yang membuatnya menjadi Arthur Nightingale.
Bukankah itu sebabnya dia jatuh cinta padanya?
Seraphina mengepalkan tinjunya.
“Aku tidak peduli,” pikirnya. “Aku tidak peduli jika dia bukan Pahlawan Kedua. Dia tidak perlu menjadi Pahlawan Kedua. Karena—”
Karena di mataku, tidak ada seorang pun yang lebih pantas disebut pahlawan selain Arthur.
Sekalipun dia salah. Sekalipun dia bias.
Itu tidak penting.
Perlahan, dia berlutut di atas salju.
Mata Arthur membelalak. “Seraphina—?”
“Aku, Seraphina Zenith,” katanya, suaranya mantap dan tak tergoyahkan, “bersumpah untuk menjadi Ksatria Arthur Nightingale.”
Arthur menatap.
“Seraphina, apa—” Ia menghentikan ucapannya, tampak bingung. “Apa yang kau lakukan?”
“Sumpah seorang ksatria,” jawab Seraphina singkat. “Aku mungkin bukan ksatria dalam gelar, tetapi aku memegang pedang. Dan aku bersumpah kepadamu. Aku ingin bertarung untukmu. Bersamamu. Selamanya.”
Kata-katanya pelan, namun tegas.
Karena Seraphina telah membuat pilihannya.
Dia tidak bisa membayangkan berjuang untuk orang lain.
Arthur menghela napas, mengusap rambutnya, jelas kesal. “Jangan jadi Ksatria-ku,” gumamnya sambil menggelengkan kepala.
Sebelum dia sempat menjawab, pria itu meraih lengannya dan menariknya berdiri.
Napasnya tersengal-sengal, pipinya memerah—bukan karena dingin, tetapi karena kedekatan yang tiba-tiba itu.
“Para ksatria tidak bisa melakukan itu dengan Tuan mereka, kau tahu,” gumam Arthur, dan seringai menggoda di wajahnya membuat seluruh tubuhnya memanas.
Seraphina menyipitkan matanya. Kemudian, sebelum Arthur sempat bereaksi, dia meraih bahunya, melingkarkan kakinya di pinggangnya, dan—
—menciumnya.
Dalam.
Ini kali kedua dia mencium Arthur.
Dan saat dia merasakan lengannya semakin erat memeluknya, Seraphina mengucapkan sumpah lain.
Dia akan selalu menjadi pedangnya.