Lewati ke konten utama

Kebangkitan Figuran — Chapter 334

Kebangkitan Figuran

Chapter 334

Bab 334: Hati Mawar Biru (2)

Bunga mawar muncul lagi dalam mimpiku semalam.

Hitam. Merah tua. Putih pucat.

Mereka merayap melintasi lanskap alam bawah sadarku, terbentang dalam gelombang yang beriak dari langkah kakiku. Aku tahu apa artinya. Bahkan saat terkurung, Karunia-ku mengingat apa adanya dulu. Apa diriku dulu.

Siapa diriku sebenarnya, di balik lapisan-lapisan sihir yang dirajut untuk melindungiku darinya.

Aku terbangun dengan jantung berdebar kencang, seprai basah oleh keringat. Cahaya fajar menyingsing menembus tirai yang setengah terbuka, mewarnai ruangan dengan nuansa biru dan abu-abu. Di sampingku, Arthur tidur nyenyak, dadanya naik turun dengan ritme yang stabil yang membawaku kembali ke kenyataan.

Aku mengamatinya sejenak, menelusuri garis-garis wajahnya dengan mataku. Sudut rahangnya yang tajam. Kerutan tipis di antara alisnya yang tak pernah sepenuhnya hilang, bahkan saat tidur. Bekas luka yang membelah alis kirinya, masih merah muda akibat pertempuran yang baru saja terjadi.

Dia tampak tenang. Tak terganggu. Sangat berbeda dari intensitas terencana yang dikenakannya seperti perisai saat terjaga.

Aku menyelinap keluar dari tempat tidur, berhati-hati agar tidak mengganggunya, dan berjalan pelan ke jendela. Halaman akademi terbentang di hadapanku, sunyi dan tenang dalam keheningan pagi hari.

Tanganku meraba perutku, ke tempat di mana tato mawar biru mekar di kulitku. Bukan pilihan mode. Sebuah tanda. Manifestasi fisik dari Karunia-ku yang muncul pada hari kekuatan sejatiku terbangun.

Terkadang aku bertanya-tanya apa yang Arthur lihat ketika dia menatapku. Apakah dia melihat gadis yang bertarung di sisinya dalam Pelanggaran Batas kemarin? Wanita yang datang ke kamarnya setelah kejadian itu, tertarik oleh sesuatu yang tidak sepenuhnya kami pahami? Atau apakah dia melihat lebih dari itu, pada kebenaran tentang siapa aku sebenarnya—putri Paus dari Ordo Api yang Jatuh, seorang wanita yang namanya dibisikkan dengan ketakutan di seluruh benua? Apakah dia melihat kekuatan yang mengalir melalui pembuluh darahku, yang tidak lagi terkurung tetapi melingkar di dalam diriku seperti ular yang sedang tidur?

Seolah dipanggil oleh pikiranku, aku merasakan lengan melingkari pinggangku, bibir hangat menempel di lekukan leherku.

“Kau berpikir terlalu keras,” gumam Arthur, suaranya serak karena mengantuk. Jari-jarinya menyentuh tato mawar biru itu, menelusuri garis luarnya dengan keakraban yang masih mengejutkanku. “Mimpi buruk?”

Aku bersandar padanya, membiarkan kehangatannya meresap ke kulitku. “Seperti biasa.”

Tangannya menutupi perutku, menutupi tato itu sepenuhnya, seolah-olah dia bisa melindungiku dari darahku sendiri, dari takdirku sendiri. Mawar biru—mustahil di alam, begitu nyata di kulitku—berdenyut samar di bawah sentuhannya, meresponsnya dengan cara yang masih belum sepenuhnya kupahami. “Ibumu lagi?”

Aku mengangguk, tak percaya dengan suaraku. Bahkan sekarang, kenangan tentang Evelyn Alaric bisa membuatku sesak napas.

“Dia tidak bisa menyentuhmu di sini,” kata Arthur, suaranya terdengar lirih di punggungku.

Aku hampir tertawa. Orang lain pasti terdengar naif mengatakan itu, tapi dari Arthur, itu hampir bisa dipercaya. Aku telah melihat apa yang bisa dia lakukan, melihat kekuatan yang terpendam di dalam dirinya. Jika ada yang bisa melawan ibuku, mungkin dialah orangnya.

Tapi aku tidak akan membiarkan dia mencoba.

“Dia rela membakar dunia hingga menjadi abu demi mendapatkan apa yang dia inginkan,” kataku pelan. “Dan yang dia inginkan adalah aku.”

Arthur membalikkan badanku agar menghadapnya, matanya menatap mataku dalam cahaya redup. “Kalau begitu, dia harus melewati aku dulu.”

Sudut bibirku sedikit terangkat. “Pahlawanku,” kataku, nada menggoda itu tak sepenuhnya menyembunyikan ketulusan di baliknya.

Dia tersenyum—senyum tulus yang langka itu, yang mengubah seluruh wajahnya, melembutkan kerutan, menerangi sesuatu yang muda dan hampir polos yang selama ini ia sembunyikan dari dunia. Ibu jarinya menyentuh pipiku, sebuah gerakan lembut yang kontras dengan kapalan yang mengeras akibat bermain pedang dan bertempur.

“Kau tidak butuh pahlawan, Rose,” katanya. “Kau butuh seseorang yang melihatmu apa adanya dan tetap bersamamu.”

Jantungku berdebar kencang dan terasa sakit di dada. Itulah yang membuatku tertarik padanya sejak awal—penerimaannya yang tanpa ragu. Saat dia mengetahui siapa ibuku, aku sudah mempersiapkan diri untuk penolakan yang tak terhindarkan. Ketakutan. Rasa jijik yang selalu muncul begitu orang-orang tahu aku membawa darah monster di dalam nadiku.

Sebaliknya, dia hanya akan mengangkat alisnya dan berkata, “Lalu? Kamu bukan dia.”

Empat kata yang telah menghancurkan setiap tembok yang telah kubangun.

“Kembali ke tempat tidur,” katanya sekarang, sambil menarik tanganku perlahan. “Masih terlalu pagi untuk diliputi kecemasan eksistensial.”

Aku mengikutinya, memperhatikan gerak-gerik otot di punggungnya saat ia bergerak, bekas luka samar yang menandai sejarah kekerasan dan perjuangannya untuk bertahan hidup. Kami serupa dalam hal itu—ditandai oleh masa lalu kami, membawa luka yang terlihat maupun tersembunyi.

Saat kami kembali berbaring di kasur, jari-jarinya kembali menemukan tato itu, menelusuri konturnya dengan kelembutan yang membuatku merinding.

Sesuatu terlintas di wajahnya—bayangan rasa sakit lama, yang dengan cepat disembunyikan. “Terkadang jalan yang lebih sulit adalah satu-satunya jalan yang memungkinkanmu untuk hidup dengan dirimu sendiri setelahnya.”

Aku menyadari penolakan itu tetapi tidak memaksa. Kita semua memiliki bagian dari diri kita yang belum siap untuk kita bagikan. Sebaliknya, aku meletakkan tanganku di atas tangannya yang berada di tato milikku.

“Dulu aku takut akan hal itu,” aku mengaku. “Tanda ini. Apa yang diwakilinya. Potensi kehancuran yang terkandung di dalam diriku.”

“Lalu sekarang?”

Aku menghela napas panjang. “Sekarang kupikir ini adalah pengingat. Sebuah peringatan.”

Mata Arthur menjadi gelap. “Kau bukan dia, Rose.”

“Aku memiliki darahnya,” aku mengingatkannya. “Karunianya.”

“Dan hati ayahmu,” balasnya, telapak tangannya menekan lebih kuat ke tato itu, seolah-olah dia bisa menembus kulit dan otot untuk menyentuh inti diriku. “Aku telah melihatmu bertarung. Kau ganas saat dibutuhkan, tetapi kau tidak pernah menikmati menyakiti orang lain. Kau melindungi orang. Kau memilih belas kasihan saat mampu.”

Air mata menggenang di sudut mataku, tak terduga dan tak kuinginkan. Aku mengedipkan mataku sekuat tenaga untuk menahannya. “Bagaimana kau bisa begitu yakin? Padahal aku sendiri pun tidak yakin?”

Jawabannya adalah menciumku—bukan dengan hasrat seperti semalam, tetapi dengan sesuatu yang lebih dalam, lebih mantap. Sebuah kepastian yang mengalir darinya ke dalam diriku.

Saat kami berpisah, dia menyandarkan dahinya ke dahiku. “Karena aku melihatmu, Rose Springshaper. Bukan putri ibumu. Bukan Bakatmu. Hanya dirimu.”

Pada saat itu, aku mempercayainya. Pada saat itu, mawar biru di kulitku terasa hangat dan menyenangkan, seolah menanggapi kepercayaannya padaku, dan mawar-mawar yang menghantui mimpiku tampak jauh, tak berdaya.

Ia bergeser, menarikku ke dadanya, detak jantungnya berdebar kencang di bawah telingaku. Di luar, fajar menyingsing sepenuhnya, cahaya keemasan menyinari ruangan, mengusir bayangan. Tak lama lagi kami harus kembali ke dunia—menghadapi tahap selanjutnya dari turnamen, menavigasi politik kompleks akademi, dan menghadapi ancaman kembalinya ibuku yang selalu ada.

Namun untuk saat ini, dalam rentang waktu singkat antara malam dan siang ini, aku membiarkan diriku untuk sekadar eksis. Menjadi Rose—bukan putri Evelyn, bukan gadis dengan Karunia yang mampu mengubah realitas, bukan pesaing yang meraih posisi ketiga dalam acara kemarin.

Hanya Rose, berbaring di pelukan seorang anak laki-laki yang melihatku dengan jelas dan tetap tinggal.

Just Rose, yang terus berkembang meskipun dibayangi oleh ibuku yang selalu membayangi hidupku.

Just Rose, akhirnya mulai percaya bahwa cinta mungkin lebih kuat daripada ikatan darah, daripada takdir, daripada warisan bengkok yang kuwarisi.

Aku menempelkan bibirku ke lekukan tenggorokan Arthur, merasakan denyut nadinya berdebar kencang di bawah sentuhanku.

“Terima kasih,” bisikku.

Lengannya semakin erat memelukku, dan aku merasakan, bukan melihat, senyumnya.

“Untuk apa?”

Karena telah melihatku. Karena telah tinggal. Karena telah membuatku percaya, meskipun hanya sesaat, bahwa aku bisa lepas dari jalan yang telah ditempuh ibuku.

Namun yang saya katakan hanyalah, “Karena telah menjadi diri sendiri,” dan biarkan bobot kata-kata sederhana itu menanggung semua sisanya.