Bab 328: Hati Putri Es (1)
“Jadi sekarang giliranmu?” tanyaku pada Seraphina, dan dia hanya mengangguk. Dia mengenakan kaus putih sederhana dan celana jins hitam robek yang pas di tubuhnya. Rambut peraknya memantulkan sinar matahari seperti air terjun perak cair, dan mata birunya yang seperti es bersinar seperti butiran salju yang mengembun.
Dia tampak berubah setelah kejadian itu.
“Kami berempat bermain tebak-tebakan untuk menentukan urutannya,” katanya tanpa malu-malu sambil melangkah maju.
Kami berdua sendirian di kamarku saat acara hari itu berakhir. Melalui jendela yang setengah terbuka, angin malam membawa aroma samar bunga malam yang mekar di taman akademi. Cahaya lembut lentera ajaib memancarkan bayangan panjang di lantai, menyelimuti sudut-sudut ruangan dalam kegelapan yang nyaman.
“Kalau begitu, kemarilah,” kataku sambil berdiri dan meraihnya. Aku melihat telinga elf-nya memerah saat aku menatapnya.
Mataku tertuju pada bibir merahnya sebelum beralih ke bawah, lalu kembali lagi ke bibir merahnya.
“Dasar mesum,” bisiknya saat aku mendekat untuk menciumnya.
“Dan kau bukan salah satunya?” kataku sambil kami berdua berpisah setelah ciuman yang dalam.
“Untukmu,” katanya tanpa malu-malu sambil kami berciuman lagi.
Jari-jarinya menyusuri rambutku, menarikku lebih dekat. Aku bisa merasakan manisnya bibirnya, sedikit aroma anggur beri yang kami minum sebelumnya. Tanganku menemukan pinggangnya, lalu perlahan meluncur ke punggungnya, menelusuri lekuk tubuhnya seolah menghafal setiap lekukannya. Tekstur rambutnya yang lembut terurai di sekitar kami seperti tirai, menangkap cahaya senja dalam untaian perak yang berkilauan.
“Arthur,” bisiknya di bibirku, suaranya setengah desahan, setengah permohonan.
Aku membalasnya dengan memperdalam ciuman, merasakan tubuhnya melengkung di tubuhku. Dunia menyempit hanya pada ini—rasanya, aromanya, kelembutan kulitnya di bawah ujung jariku. Waktu seolah meregang dan memampatkan sekaligus. Suara-suara akademi yang jauh memudar, hanya menyisakan detak jantung kami yang sinkron dan napas yang kami bagi bersama.
Ketika akhirnya kami berpisah, sama-sama terengah-engah, matanya lebih gelap, biru es itu kini bergejolak karena hasrat. Aku menelusuri garis rahangnya dengan ibu jariku, memperhatikan saat dia mencondongkan tubuh ke arah sentuhan itu seperti kucing yang mencari kasih sayang. Perubahan halus dalam ekspresinya—kerentanan di balik ketenangannya yang biasa—mengirimkan gelombang keinginan untuk melindungi dalam diriku.
“Kapan ulang tahunmu?” tanyanya tiba-tiba, suaranya masih serak tetapi matanya menajam penuh rasa ingin tahu.
Aku hanya tersenyum, tak berkata apa-apa, jari-jariku masih menelusuri pola di kulitnya. Pertanyaan itu menggantung di antara kami, tak terduga dan tak diinginkan, seperti bayangan yang jatuh di ruangan yang diterangi matahari.
Alisnya berkerut, lengkungan sempurna alisnya menyatu karena kebingungan. “Mengapa kau tidak menjawabku?” Nada bercanda dalam suaranya telah mengeras menjadi sesuatu yang lebih serius, lebih tegas.
Aku mengangkat bahu, mencoba menariknya mendekat lagi, tetapi dia meletakkan tangannya di dadaku, menjaga jarak sedikit di antara kami. Telapak tangannya hangat, tetapi kokoh—tak tergoyahkan.
“Ini mengingatkan saya pada pulau yang hancur itu,” katanya, suaranya kini lebih pelan. “Di Istana Es Laut Utara. Penjara bawah tanah bintang enam itu.” Tatapannya mantap, mencari, seolah mencoba membaca teks yang ditulis dengan tinta tak terlihat di wajahku.
Senyumku sedikit memudar, tetapi aku tetap mempertahankannya dengan tekad yang kuat. Kenangan berkelebat di balik mataku—reruntuhan yang diselimuti embun beku, koridor-koridor kristal, dan ruangan tempat sihir kuno merasuki pikiranku dan mengeluarkan mimpi buruk yang menyamar sebagai kebenaran.
“Kau menangis setelah sidang kejiwaan itu,” lanjutnya, matanya tak pernah lepas dari mataku. “Kau tak mau memberitahuku alasannya, meskipun aku memelukmu.” Suaranya melembut, bukan menuduh tetapi mengenang, seolah kenangan menghiburku adalah kenangan yang ia hargai meskipun menyakitkan.
Tenggorokanku tercekat mengingat semua itu—persidangan, penglihatan-penglihatan itu, masa lalu yang terungkap di hadapanku dalam segala kebenaran buruknya. Dan Seraphina setelahnya, tanpa bertanya, hanya memelukku erat ketika aku merasa seperti akan hancur berkeping-keping. Pelukan lengannya di sekelilingku adalah satu-satunya jangkar di lautan keputusasaan.
“Apakah itu juga berhubungan dengan hari ulang tahunmu?” tanyanya, suaranya lembut namun gigih. Pertanyaan itu mengorek luka yang sudah lama tertutup tetapi tidak pernah benar-benar sembuh.
Tangannya berpindah dari dadaku ke wajahku, menangkup pipiku. Sentuhannya lembut, hampir penuh penghormatan, dan aku mendapati diriku bersandar padanya meskipun kenangan-kenangan berkecamuk di dalam diriku. Ibu jarinya menghapus ketegangan yang tak kusadari terlihat.
“Kau tak perlu menceritakan semuanya padaku,” bisiknya, sambil mengusap bibir bawahku dengan ibu jarinya. “Tapi aku ingin mengenalmu, Arthur. Seluruh dirimu. Bahkan bagian-bagian yang menurutmu terlalu gelap untuk dibagikan.” Ketulusan di matanya hampir menyakitkan untuk disaksikan—putri yang telah melawan naga dan iblis ini sekarang berjuang untuk memahamiku.
“Abaikan saja,” gumamku, menyelipkan tanganku di bawah kausnya, jari-jariku menyentuh kulit perutnya yang kencang dan hangat. Napasnya tertahan, tersengal-sengal kecil yang membuatku merinding. “Itu tidak penting. Masa lalu sudah mati dan berlalu.” Kata-kata itu terasa seperti kebohongan, tetapi aku telah mengucapkannya berkali-kali sehingga hampir terasa benar.
Seraphina membuka mulutnya untuk membantah, tetapi aku menangkap tangannya, menyatukan jari-jariku dengan jarinya, dan membungkamnya dengan ciuman dalam dan penuh hasrat. Bibirku menjelajahi—mulutnya yang lembut, pipinya yang memerah, lekukan halus hidungnya yang sempurna—menikmati pemandangan putri setengah elf yang terhimpit di bawahku, kecantikannya hampir tak nyata. Cahaya samar terpancar dari kulitnya, cahaya halus yang tampak berdenyut seiring detak jantungnya yang semakin cepat.
“Arthur,” bisiknya, suaranya bergetar meskipun biasanya tenang, wajahnya memerah saat ia menekan tangannya ke dadaku. “Mengapa kau menghindar?” Ada rasa sakit di balik pertanyaan itu, luka halus yang ditimbulkan oleh keheninganku.
“Karena aku mau,” kataku singkat, mengangkat tangannya dari dadaku dan menyatukan jari-jariku dengan jarinya sekali lagi, menjebaknya dengan lembut. Bayangan di ruangan itu memanjang, menutupi separuh wajahnya dalam kegelapan sementara separuh lainnya tetap diterangi oleh cahaya yang meredup.
“Arthur,” dia mencoba lagi, tetapi aku menciumnya lebih keras, mengecapnya, merasakan berat tubuhnya di bawahku. Tanganku meluncur ke belakang kepalanya, menopangnya, membimbingnya saat lidah kami berbelit dalam tarian yang lambat dan memabukkan. Aromanya—embun beku musim dingin dan bunga musim panas, perpaduan yang mustahil—memenuhi indraku.
“Kau sampai sejauh ini untuk menghindarinya?” Suara Seraphina kini berbisik, matanya menatap mataku. Di suatu tempat di kedalaman matanya, pemahaman mulai muncul—bukan tentang apa yang kusembunyikan, tetapi tentang betapa putus asa aku perlu menyembunyikannya.
“Aku tidak menghindarinya,” bantahku, nada suaraku tegas sambil menatap matanya. “Aku hanya sudah tidak peduli lagi.” Bahkan di telingaku sendiri, pembangkangan itu terdengar hampa.
“Aku tidak setuju,” katanya, suaranya terdengar lembut dan menantang. “Jika ini bukan untuk menghindari—” Kata-katanya terhenti saat aku menciumnya lagi, memotong ucapannya dengan ciumanku.
Dia sebenarnya tidak melawan, meskipun mulutnya bergerak seolah ingin berbicara. Sebaliknya, tubuhnya melunak di bawah tubuhku, mengalah saat aku memperdalam ciuman. Lidahnya bertemu dengan lidahku, ragu-ragu namun penuh semangat, meraba-raba dengan cara yang sepenuhnya miliknya sendiri. Kontras antara prajurit garang yang berdiri membelakangiku melawan gerombolan hantu es dan makhluk lembut yang ragu-ragu dalam pelukanku ini tidak pernah berhenti mempesonaku.
Dia tidak seperti yang lain—Cecilia, Rachel, atau Rose. Cecilia menggunakan ketelitian seperti senjata, Rachel membara dengan antusiasme yang liar, dan Rose mengalir selaras sempurna denganku. Seraphina berbeda—lebih tenang, diwarnai keraguan yang tenang, seolah-olah ada rasa takut tersembunyi yang menahannya. Namun dia tidak menjauh. Napasnya yang semakin cepat, pergeseran halus tubuhnya di bawahku, dan rona merah yang menjalar di wajahnya memberitahuku segalanya: dia menginginkan ini sama seperti aku.
Cahaya yang masuk melalui jendela telah bergeser, mewarnai rambut peraknya dengan nuansa emas dan kuning keemasan. Aku menelusuri ujung telinganya yang runcing dengan satu jari, memperhatikan saat dia menggigil karena sentuhan itu.
“Arthur,” desahnya saat kami akhirnya berpisah, kami berdua terengah-engah. Lengannya menyelip di bawah lenganku, tangannya menemukan bahuku, berpegangan di sana seolah ingin menstabilkan dirinya.
Lidahnya menjulur keluar, menelusuri bibirnya, dan mata biru esnya yang tenang berkedip-kedip penuh keraguan. Suaranya—biasanya halus dan tegas, seperti sutra yang dipintal rapat—kini bergetar, bercampur dengan emosi mentah yang meluap darinya. Putri yang percaya diri dari Benua Timur telah lenyap, hanya menyisakan Seraphina, yang rentan dan penuh kerinduan.
“Aku bisa merasakan detak jantungmu,” bisikku, jari-jariku menyentuh dadanya saat pipinya yang pucat memerah lebih merah, lebih merah dari yang pernah kulihat. Detak cepat di bawah sentuhanku sesuai dengan irama denyut nadiku sendiri yang berpacu.
“Aku bisa merasakan detak jantungmu,” gumamnya balik, suaranya hampir tak terdengar, seperti benang tipis yang memisahkan kami. Tangannya terangkat, telapak tangannya menempel di dadaku, merasakan ritme yang berdetak lebih cepat saat disentuhnya.
Sebuah momen pemahaman terjadi di antara kami—tanpa kata-kata tetapi mendalam. Dia tidak akan mendesak lebih jauh hari ini, tetapi ini bukanlah penyerahan diri. Ini adalah penarikan taktis. Seraphina, ahli strategi ulung, tahu kapan harus menunggu kesempatan yang lebih baik.
“Aku tidak ingin melanjutkan,” kataku, tenang namun lembut. Kata-kata itu mengandung makna yang lebih dalam daripada sekadar permukaannya—bukan hanya tentang keintiman fisik kami, tetapi juga tentang pertanyaan-pertanyaan yang telah dia ajukan, tembok-tembok yang telah dia coba panjat.
“Aku tahu,” jawabnya sambil mengangguk kecil, meskipun sekilas bayangan kekecewaan melintas di wajahnya. “Jika kau tahu, kita pasti sudah sampai di sana. Jangan khawatir. Hatiku—hanya berdetak seperti ini untukmu.”