Lewati ke konten utama

Kebangkitan Figuran — Chapter 207

Kebangkitan Figuran

Chapter 207

Bab 207 Istana Es Laut Utara (8)

Seraphina berada di tempat lain sama sekali—kembali ke dalam ingatan yang setajam dan setajam embun beku di udara.

Semuanya berawal dari tawa. Lembut, jernih, seperti dentingan lonceng es tertiup angin. Tawa itu bergema di aula-aula megah Istana Es Laut Utara, tempat yang dingin berkilauan dan memiliki keindahan yang menakjubkan. Dalam benaknya, ia melihat ibunya bergerak di aula-aula itu, kehadirannya berwibawa namun anggun, langkah kakinya hampir tak terdengar di lantai es yang dipoles dan mempesona. Patung-patung menghiasi koridor—ular yang melilit dalam gulungan beku, serigala yang terkunci di tengah lompatan, bunga plum yang terperangkap dalam momen mekar abadi.

Istana itu bagaikan negeri dongeng. Di tempat itu, udara pun membawa melodi yang tenang, dinding-dindingnya tampak bercahaya di bawah cahaya aurora borealis yang lembut, dan tawa ibunya mengubah dinginnya musim dingin menjadi sesuatu yang hangat dan hidup.

Seraphina, kecil dan bermata cerah, pernah mengikuti ibunya dari dekat, mencoba melangkah tepat di tempat ibunya melangkah, kaki kecilnya berderak di lorong-lorong yang tertutup salju. Tangan ibunya terasa hangat saat menggenggam tangannya, suaranya bagaikan gumaman lembut berisi cerita dan janji.

“Suatu hari nanti, istana ini akan menjadi milikmu.”

Seraphina pernah mempercayainya.

Namun, kenangan memiliki cara yang kejam untuk berbalik.

Dingin yang dulunya menenangkan kini terasa mencekik. Dia tidak ada di sana ketika istana jatuh, ketika musuh turun seperti bayangan yang membentang di atas es. Dia berada di Sekte Gunung Hua, di bawah perlindungan ayahnya—atau lebih tepatnya, di bawah bayangannya.

Dia tidak menyaksikan perjuangan terakhir ibunya, tetapi dia telah mendengar bisikan-bisikannya.

Badai es dan baja. Ledakan sihir yang mampu membekukan bintang-bintang itu sendiri. Pertahanan terakhir yang penuh keputusasaan.

Lalu—tidak terjadi apa-apa.

Hilang.

Berita itu sampai ke Gunung Hua seperti longsoran salju. Beberapa kata, diucapkan terlalu pelan untuk menampung bobot makna yang terkandung di dalamnya.

Ibunya telah meninggal.

Rumahnya telah lenyap.

Ayahnya—ayahnya yang tak tergoyahkan dan tak tersentuh—tidak menatapnya ketika mendengar kabar itu. Ia tidak memeluknya, tidak berlutut untuk menatap matanya. Ia hanya berpaling.

Sejak saat itu, dia hampir tidak pernah bertemu dengannya lagi.

Seraphina bisa menghitung dengan jari jumlah kali ayahnya mengakui keberadaannya di tahun-tahun berikutnya. Ia kini diliputi oleh sesuatu yang lebih besar—sebuah tujuan tunggal yang melahap segalanya. Sang Raja Bela Diri. Pria yang berdiri di puncak dunia, sebuah rintangan dalam pendakian ayahnya yang tak kenal lelah.

Dan Seraphina?

Dia bukanlah sebuah penghalang.

Dia sama sekali bukan siapa-siapa.

Dia tidak menangis. Dia tidak memohon perhatiannya. Dia tidak menuntut untuk diperhatikan.

Sebaliknya, dia berpaling kepada satu-satunya orang yang tersisa—anak laki-laki yang dibawa ayahnya dari medan perang yang jauh. Sun Zenith.

Dia empat tahun lebih tua darinya, pendiam dan tenang, seorang anak laki-laki yang sudah menjadi legenda di masa depan.

Seraphina ingin mempercayainya.

Dia ingin percaya bahwa dia tidak sepenuhnya sendirian.

Suatu hari, ia menemukannya sendirian, berdiri di bawah pohon plum besar di halaman sekte, tempat kelopak bunga merah muda berguguran seperti salju yang bergerak perlahan. Di tangan kecilnya, ia memegang salah satu kelopak bunga itu—lembut, halus, simbol dari filosofi Gunung Hua.

Dia melangkah maju, mengumpulkan keberaniannya.

“Matahari,” katanya sambil menawarkan bunga itu.

Sejenak, dia menatapnya.

Lalu—tamparan.

Tangannya menepis tangan wanita itu, menyebabkan kelopak bunga jatuh ke tanah. Dia menginjaknya, menghancurkannya hingga rata dengan tanah tanpa mengucapkan sepatah kata pun, sebelum pergi.

Seraphina tidak bergerak.

Dia tidak menangis.

Dia hanya menatap kelopak bunga yang hancur di bawah tumitnya, tangannya mengepal.

Dia berusia enam tahun. Dan saat itu dia mengerti bahwa dia tidak memiliki saudara laki-laki.

Itulah terakhir kalinya dia mengulurkan tangan kepadanya.

Tahun-tahun berlalu.

Seraphina tidak sendirian, sebenarnya tidak. Pamannya baik hati, dan para tetua menyayanginya, tetapi dia selalu merasakannya—kekosongan di tempat seharusnya ada kasih sayang seorang ayah. Ketiadaan kehangatan di rumah yang sebenarnya tidak pernah benar-benar menjadi miliknya.

Pada usia lima belas tahun, ia diterima di Akademi Mythos. Akademi terbaik di dunia.

Ayahnya hampir tidak mengakui prestasi tersebut.

Sun telah mencetak rekor. Dia adalah pemegang peringkat Ascendant termuda dalam sejarah. Namanya dibisikkan dengan penuh kekaguman, masa depannya sudah ditentukan—seorang penguasa, pembuat raja, monster di antara para jenius.

Sebagai perbandingan, prestasi Seraphina tidak berarti apa-apa.

Dia tidak peduli.

Dia kuat. Itu saja yang terpenting.

Kemudian, dia tiba di akademi, dan dia bertemu dengan mereka.

Para monster dari Kelas 1-A.

Rachel Creighton, Sang Santa Ketertiban.

Cecilia Slatemark, sang Penyihir Agung.

Lucifer Windward, Pangeran Para Jenius.

Ren Kagu, Sang Peperang.

Jin Ashbluff, Pangeran Ahli Nekromansi.

Ian Viserion, Sang Pewaris Naga.

Dan di urutan paling bawah daftar itu—Arthur Nightingale.

Awalnya dia tidak terlalu memperhatikannya. Peringkat 8. Lemah. Mudah dilupakan.

Dia berasumsi bahwa dia akan segera digantikan, diturunkan ke Kelas B tempat seharusnya dia berada.

Tapi ternyata tidak.

Dia menjadi lebih kuat. Lebih cepat dari yang diperkirakan siapa pun.

Dia mengamati bagaimana pria itu membangkitkan rasa ingin tahu Rachel, hiburan Cecilia, dan rasa hormat yang hati-hati dari Lucifer.

Dia mulai menyadarinya—cara dia bergerak, cara dia berbicara, cara dia sepertinya tidak pernah sepenuhnya seperti yang terlihat.

Arthur Nightingale bukanlah orang yang lemah.

Dia adalah sosok yang sama sekali berbeda.

Sebuah teka-teki, lebih misterius daripada para jenius yang telah tercatat dalam sejarah.

Dan Seraphina?

Dia merasa tertarik.

Dia bingung.

Dan, meskipun dia belum mengetahuinya—

Dia semakin terperangkap dalam pengaruhnya.

Cinta adalah sesuatu yang misterius. Terkadang ia datang perlahan seperti bara api yang menyala lembut, menghangatkan sebelum kau sadari. Di lain waktu, ia menyerang seperti badai tiba-tiba, melahap segalanya, mustahil untuk diabaikan.

Satu-satunya kebenaran yang konstan tentang cinta? Ketika kamu mencintai seseorang dengan tulus, keinginanmu untuk menjadi miliknya melebihi segalanya.

Seraphina jatuh cinta padanya.

Jika mengingat kembali, rasanya itu tak terhindarkan. Arthur Nightingale. Pria yang terus menentang ekspektasi, yang menolak menjadi biasa-biasa saja, yang kehadirannya saja membengkokkan narasi dunia di sekitarnya seperti daya tarik gravitasi. Perhatiannya padanya—yang tersembunyi di balik lapisan kecerdasan dan keteguhan—mengurai pertahanannya dengan cara yang tak ia duga. Suaranya, kehadirannya, cara mata birunya menatapnya dalam kedalaman yang tenang, seolah berbisik bahwa ia pantas berada di sana, bersamanya.

Dia bukan satu-satunya.

Dia melihatnya. Dia merasakannya.

Arthur terus bangkit, seperti gelombang pasang, tanpa henti dan tak terbantahkan. Dia menggulingkan Lucifer Windward, pria yang tampak tak tergoyahkan, dan pada saat itu, Seraphina hampir menyerahkan segalanya kepada Arthur.

Hampir.

Tapi tidak sepenuhnya.

Barulah ketika dia kembali ke Sekte Gunung Hua, ketika dia berdiri di hadapannya lagi, ketika dia berbicara dengan keyakinan tenang yang sama—tidak menuntut, tidak memohon, hanya hadir—dia memahami sepenuhnya bobot perasaannya.

Lalu, dia membawanya ke sini.

Ke tempat ibunya meninggal.

Pulau yang tak pernah ia kunjungi lagi.

Trauma yang telah ia pendam, rasa sakit yang telah ia abaikan, kenangan yang telah ia simpan rapat-rapat—semuanya seharusnya menghancurkannya di bawah bebannya sendiri.

Namun, bersama Arthur, rasanya tidak berat.

Bersama Arthur, semuanya terasa ringan.

Bersama Arthur…

Semuanya terasa tepat.

Dia melangkah maju, napasnya tertahan saat sesosok muncul dari kabut ingatan.

Rambut pirang platinum, hampir keperakan, terurai seperti sutra. Mata biru es—mata Seraphina sendiri, tetapi lebih bijaksana, lebih dewasa, menyimpan kehangatan di tempat matanya menyimpan kedinginan.

Ibunya.

Tidak sepenuhnya, tentu saja. Hanya ilusi, yang terjalin dari sihir dan kerinduan. Tetapi untuk sesaat, hanya sesaat, itu tidak penting.

Tangan Seraphina gemetar di sisi tubuhnya.

“Ibu,” bisiknya.

Ilusi itu tidak berbicara, hanya mengamatinya, seperti yang biasa dilakukannya—tenang, sabar, dan penuh pengertian.

Seraphina menelan.

“Aku…” Suaranya bergetar, tetapi dia melanjutkan. “Aku bukan anak perempuan yang buruk karena ingin melanjutkan hidup, kan?”

Ilusi itu memiringkan kepalanya, tanpa suara. Seraphina mengepalkan tinjunya.

“Aku mencintaimu, Ibu,” katanya, suaranya kini lebih kuat dan mantap. “Aku selalu mencintaimu. Tapi aku tak bisa lagi dikuasai oleh ini. Aku tak ingin dikuasai olehnya.”

Dia menarik napas, cukup dalam untuk menenangkan sesuatu di dalam dirinya.

“Aku sudah lelah tenggelam dalam keputusasaan, dalam ketidakadilan semua ini, dalam kekosongan atas apa yang telah hilang. Karena…”

Jari-jarinya menyentuh dadanya, tempat jantungnya berdetak stabil dan kuat.

“Karena aku menemukannya.”

Ilusi itu berkedip-kedip, tetapi tatapan ibunya tidak pernah goyah.

Seraphina tersenyum—senyum yang tulus, kecil namun pasti.

“Aku telah menemukannya. Pria yang mengisi kekosongan di hatiku. Pria yang mencintaiku, bahkan ketika aku kesulitan mencintai diriku sendiri. Pria yang telah berbuat lebih banyak untukku daripada yang pernah kubayangkan. Dia… dia rela berbuat lebih banyak untukku daripada yang pernah kulakukan untuknya.”

“Dan aku ingin mencoba.” Jelajahi lebih lanjut di My Virtual Library Empire

Napasnya tersengal-sengal. Dia menelan ludah, mengatasi rasa sesak di tenggorokannya.

“Kita jauh dari sempurna. Kita bahkan belum… punya hubungan. Belum. Tapi aku ingin mempercayainya. Aku ingin percaya pada kita.”

“Karena… Ibu pasti menginginkan itu untukku, kan?”

Ilusi itu tersenyum.

Bukan ekspresi yang megah dan berseri-seri. Hanya tatapan lembut dan penuh pengertian—tatapan yang telah dilupakan Seraphina, terkubur di bawah bertahun-tahun embun beku dan keheningan.

Dadanya terasa sakit.

“Ini perpisahan,” bisiknya. Suaranya bergetar, dan untuk sekali ini, dia membiarkannya.

Dia memejamkan matanya, menghembuskan napas perlahan.

“Aku mencintaimu.”

Saat dia membukanya, ilusi itu lenyap.

Hancur seperti embun beku di bawah sinar matahari.

Dia sudah kembali ke kamar.

Keheningan itu begitu luas, terasa sangat nyata dan menyakitkan.

Setetes air mata mengalir di pipinya, setetes kehangatan sebening kristal di kulitnya yang dingin.

Dia menyekanya dengan punggung tangannya, menarik napas dalam-dalam, dan menenangkan diri.

Lalu, dia melihatnya.

Arthur, berdiri di seberang ruangan, masih terperangkap dalam ilusinya.

Untuk pertama kalinya, Seraphina menyadari—dia memiliki masa lalu kelamnya sendiri yang harus dihadapi.

Dia melangkah mendekatinya.