Bab 350 – Transaksional atau Cinta?
Penjahat Bab 350. Transaksional atau Cinta?
“Mau jual mahal, ya?” tanyanya, nadanya bercampur candaan dan rasa ingin tahu. “Atau kau masih berperan sebagai Kaisar Iblis?” tambah Shea, kata-katanya menyiratkan bahwa mungkin penolakan Allen adalah kelanjutan dari percakapan main-main mereka yang sedang berlangsung.
Namun, tanggapannya sungguh tak terduga dan jujur. “Ini bukan permainan peran,” tegasnya, suaranya penuh keyakinan. “Ini memang diri saya yang sebenarnya,” simpulnya, kata-katanya dipenuhi rasa percaya diri yang tak mungkin diabaikan.
Ketenangan Shea goyah sesaat, secercah kerentanan melintas di wajahnya sebelum ia menahannya. Ia selalu mahir menjaga kendali, menyembunyikan emosinya di balik fasad kepercayaan diri. Namun, di hadapan tatapan tajam Allen, pertahanannya terasa seperti runtuh.
Namun, dia bukanlah tipe orang yang mudah menyerah. “Kau tahu, kau orang pertama yang mengatakan itu padaku,” balas Shea, nadanya mengandung sedikit tantangan. Dia menatap matanya langsung, matanya sendiri menolak untuk menyerah pada intensitas tatapannya. Pertukaran di antara mereka terasa dipenuhi ketegangan yang tak terucapkan. “Tapi kau tahu, Allen. Ini tidak sama seperti di dalam game.”
“Kamu harus tahu itu dan aku benci orang yang hanya banyak bicara tapi tidak bertindak,” dia memperingatkannya.
Respons Allen cepat, tantangannya seolah mencerminkan tantangan wanita itu. Tatapannya yang teguh sama dengan tatapan wanita itu.
“Lalu apa yang membuatmu berpikir seperti itu?” balas Allen, suaranya mengandung nada penasaran.
“Karena di sini, Allen,” Zoe menekankan, suaranya mantap dan tegas. “Kau bukan kaisar iblis.” Kata-katanya mengandung bobot yang melampaui percakapan mereka.
Senyum nakal tersungging di sudut bibir Allen saat ia mengalihkan perhatiannya kembali ke Zoe. “Dan kau mengira aku tidak akan menggigit?” candanya, nadanya riang dan matanya berbinar geli.
“Ya,” jawab Zoe dengan anggukan percaya diri, matanya menatapnya tanpa ragu. Ada sedikit tantangan dalam tatapannya, seolah-olah dia menantangnya untuk membuktikan bahwa dia salah.
Tawa Allen menggema di udara, suara hangat dan tulus yang memenuhi ruangan.
Dengan kilatan kenakalan di matanya, bibir Allen turun ke sisi leher Shea. Sebuah momen penuh antisipasi menggantung di udara saat ia dengan main-main menirukan gerakan menggigit, bibirnya menyentuh kulit Shea dengan ringan dan menggoda. Sensasi itu membuat Shea merinding, campuran kejutan dan geli mengalir di pembuluh darahnya.
Sikapnya mengejutkan Shea dan Zoe. Terutama Zoe, tentu saja, karena dia tidak menyangka Allen akan menganggap itu sebagai sesuatu yang bernuansa sastra, padahal yang dia maksud bukanlah sindiran seperti itu.
“Yah, kurasa itu salah satu cara untuk menafsirkan ‘menggigit’,” canda Zoe, nadanya sedikit geli. Dia hampir saja tertawa, tetapi sesuatu yang tak terduga terjadi.
“Ah!” Sebuah erangan lembut keluar dari bibir Shea—suara yang langsung menarik perhatian Zoe. Reaksi itu memiliki bobot tersendiri, reaksi yang berbicara banyak tentang sensasi yang ditimbulkan oleh gerakan tak terduga Allen. Dia tidak hanya ‘menggigit’ Shea, tetapi mencium kulitnya, menjilat dan menghisap kulitnya. Shea merasakan sensasi luar biasa dari rangsangan sederhana itu dan dia terkejut karenanya.
Namun sentuhan ini sungguh luar biasa. Ini adalah sentuhan nyata yang telah lama ia dambakan.
Reaksi spontan Shea mengejutkan mereka berdua. Dalam sekejap itu, insting mengalahkan logika, dan sebelum dia menyadarinya, jari-jarinya telah menemukan jalan ke bagian belakang kepala Allen. Seolah-olah tubuhnya bertindak atas kemauannya sendiri, didorong oleh luapan emosi yang telah lama dia sembunyikan.
Saat bibir mereka bertemu, arus listrik mengalir di antara mereka. Itu adalah koneksi yang sederhana namun mendalam, sentuhan yang membawa beban kata-kata yang tak terucapkan dan keinginan yang belum terungkap. Shea memejamkan matanya, membiarkan dirinya diselimuti kehangatan momen itu. Lidah mereka beradu dalam tarian keintiman.
Ketika Allen akhirnya melepaskan diri, napas mereka bercampur, menciptakan rasa keintiman yang nyata yang menggantung di udara. Bibirnya telah meninggalkan bekas di kulitnya, pengingat yang jelas akan keberanian tindakan impulsif mereka. Pipi Shea memerah karena malu yang tak bisa ia sembunyikan, rasa malunya terlihat jelas dari caranya mengalihkan pandangannya.
“Oh, aku tak pernah menyangka kau bisa membuat ekspresi wajah seperti itu,” suara Allen yang menggoda memecah keheningan, dan Shea tak bisa menahan diri untuk menatapnya dengan campuran rasa malu dan geli.
Saat Shea menenangkan diri, dia mengalihkan perhatiannya kepada Zoe, yang jelas terkejut dengan ungkapan kasih sayang yang tiba-tiba itu. Keterkejutan di wajah Zoe tercermin dalam keterkejutannya sendiri atas tindakannya. Dia bisa merasakan jantungnya berdebar kencang, pikirannya dipenuhi campuran kegembiraan dan ketidakpastian.
Pandangan Allen beralih ke Zoe, dan ekspresinya yang tanpa penyesalan seolah mengakui ketidakdugaan situasi tersebut. “Maaf, Zoe,” katanya sambil tersenyum percaya diri, meskipun tatapannya tetap hangat.
“Tapi pepatah ‘hanya gertakan tanpa tindakan’ tidak ada dalam kamusku,” kata-kata Allen mengandung nada tegas, sebuah pernyataan bahwa tindakannya lebih bermakna daripada kata-katanya. Itu adalah bukti kesediaannya untuk menjembatani kesenjangan antara persona virtual mereka dan interaksi di dunia nyata. Batasan antara keduanya telah kabur, mengungkapkan kerentanan yang menambah kedalaman hubungan mereka.
“Apakah itu berarti kau menerima tawaranku?” Pertanyaan Shea menggantung di udara. Itu adalah tantangan langsung, ajakan agar Allen mengungkapkan niatnya dan ketulusan di balik tindakannya. Matanya tertuju padanya seolah menunggu jawabannya untuk mengungkap kebenaran yang tersembunyi.
Bibir Allen melengkung membentuk senyum tipis. Dia bukan tipe orang yang mundur dari tantangan, terutama jika menyangkut masalah hati. Dia menatap Shea, ekspresinya tak berubah saat dia mempertimbangkan jawabannya.
“Untuk itu, kau harus menjawab pertanyaan pertamaku,” suara Allen terdengar lembut namun tegas. “Apakah ini hanya transaksional atau kau benar-benar mencintaiku?”