Lewati ke konten utama

Penjahat MMORPG: Kaisar Iblis Mahakuasa dan Tujuh Istri Iblisnya — Chapter 1724

Penjahat MMORPG: Kaisar Iblis Mahakuasa dan Tujuh Istri Iblisnya

Chapter 1724

Bab 1724: Kisah Cinta Gelap yang Menyeramkan

Penjahat Bab 1724. Romansa Gelap yang Menyeramkan

Bukan seringai tajam yang biasa ia gunakan dalam duel. Bukan pula seringai sarkastik yang ia jadikan senjata saat pesta yang canggung. Kali ini lebih lembut. Nyata. Seolah muncul dari balik lapisan-lapisan yang bahkan tak ia sadari keberadaannya.

Senyum bodoh dan lembut yang melekat di bibirnya lama setelah Allen akhirnya mundur.

Udara masih terasa tegang. Tidak berat—tapi hangat. Seolah-olah apartemennya sedang berusaha mengingat cara bernapas normal lagi setelah dicium hingga hampir kehilangan integritas strukturnya.

Allen menatapnya untuk terakhir kalinya. Ekspresinya telah berubah—masih angkuh, tentu saja, karena dia memang Allen—tetapi sekarang lebih tenang. Lebih kalem. Ketegangan yang selalu ada dalam dirinya telah mereda dan berubah menjadi sesuatu yang lebih bijaksana.

“Aku harus pergi,” katanya dengan suara rendah, seolah panasnya belum meretakkan dinding di sekitar mereka. “Kurasa aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi.”

Dia berkedip. “Oh. Benar. Tentu saja.”

Dia memperhatikannya sedetik lebih lama dari yang seharusnya. Wanita itu mengira dia mungkin akan mengatakan sesuatu yang lain. Namun, dia hanya melangkah menuju pintu, jaketnya hanya terpasang sebagian, satu tangan meraih gagang pintu.

“Allen,” katanya tiba-tiba.

Dia menoleh ke belakang.

Azura menelan gumpalan di tenggorokannya. “Lain kali… aku tidak akan gemetar.”

Keheningan menyelimuti mereka sejenak. Dia tidak tersenyum. Tidak tertawa. Hanya menatapnya dengan kelembutan yang menakutkan, yang membuat perutnya kembali bergejolak.

“Kau boleh gemetar sepuasmu,” katanya. “Aku akan tetap di sini.”

Tenggorokan Azura terasa kering. Jari-jarinya mencengkeram lengan bajunya.

Dia membuka pintu.

“Tenang saja,” tambahnya, dengan nada lembut yang terasa lebih menusuk daripada ciuman mana pun. “Kita tidak sedang berlomba.”

Lalu dia menghilang.

Pintu tertutup di belakangnya dengan bunyi klik yang pelan.

Azura berdiri di sana selama sepuluh detik penuh, otaknya menolak untuk kembali menyatu dengan tulang belakangnya.

Apartemennya kembali sunyi.

Tidak ada langkah kaki. Tidak ada suara menggoda. Tidak ada seringai jahat yang melayang beberapa inci dari mulutnya.

Hanya dia.

Ia mengangkat tangannya perlahan, ujung jarinya menyentuh bibirnya seolah ingin memastikan apakah bibirnya masih asli. Bibirnya terasa geli. Masih bengkak. Masih hangat. Masih seperti bekas ciuman.

‘Astaga.’

Dia berjalan mundur dengan linglung, sampai menabrak sofa. Lalu duduk. Dengan keras. Kakinya tak mau bekerja sama lagi.

Dia hanya duduk di sana. Berkedip. Mencerna.

Jantungnya masih berdebar kencang. Napasnya pun belum teratur. Pikirannya? Masih sangat aktif.

Dia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.

Apa. Yang. Baru. Saja. Terjadi.

Allen menciumnya dengan sepenuh hati. Seolah ia sangat mendambakannya. Dan ia tidak berhenti. Tidak sampai ia gemetar. Tidak sampai ia tersentak. Dan bahkan saat itu—ia berhenti. Ia tidak memaksa. Tidak membuatnya merasa bersalah. Hanya… memeluknya dan mengatakan satu hal yang ia sendiri tidak tahu perlu didengarnya.

‘Tidak usah buru-buru.’

Jantungnya berdebar kencang sekali.

Dia sedang dalam masalah. Masalah yang paling buruk.

Karena Allen bukan sekadar anak laki-laki biasa di pestanya. Dia bukan hanya Kaisar Iblis. Atau saudara sepupunya. Atau bajingan sombong yang biasa membunuhnya di turnamen.

Dia miliknya.

Dia miliknya.

Ya. Salah satu miliknya.

Azura menjatuhkan diri kembali ke sofa, mengerang sambil menutupi mulutnya dengan lengan baju. “Ughhh.”

Dia masih bisa merasakan kehadirannya di mana-mana. Di rambutnya. Di bibirnya. Menekan di sepanjang tubuhnya seperti kenangan yang tak bisa ia lupakan.

Dan tidak—ini bukan sekadar hormon. Ini bukan salah satu dari klise bodoh dan impulsif “ups, aku mencium si bad boy”. Ini nyata. Beralasan. Stabil.

Karena Allen, terlepas dari semua godaan dan permainan yang dilakukannya, tahu persis kapan harus berhenti.

Dia menarik bantal besar menutupi wajahnya dan berteriak ke dalamnya.

Dia adalah seseorang yang menghadapi bos tanpa gentar. Yang suka mengejek pemain DPS dan membuat keputusan strategis secara spontan. Namun di sinilah dia—mengalami ledakan emosi karena seorang pria yang bahkan tidak berusaha mendekatinya. Karena ya… dia belum siap. Dia mungkin akan menangis setelah melakukannya.

Pipinya masih terasa panas. Dia melepas sepatunya, meringkuk di sofa, dan menatap langit-langit seolah langit-langit itu punya jawaban.

Dia adalah pacar Allen.

Pacar perempuan.

Hanya kata itu saja sudah membuat kepalanya korsleting.

Dan bukan sembarang pacar. Salah satu pacarnya.

Azura mengerang lagi. Lebih keras. Lebih lama.

Karena ya. Dia tahu tentang yang lain. Tentu saja dia tahu. Kau tidak akan bertarung dengan seseorang selama berbulan-bulan tanpa menyadari ratu vampir yang menatap tajam dengan belati berdarah setiap kali kau mencoba membunuhnya di tengah pertempuran. Atau siren yang dengan santai “secara tidak sengaja” masuk saat dia membunuh para pemain. Atau pendeta wanita gelap yang terlalu sensitif untuk seseorang yang seharusnya menjunjung tinggi kesucian.

Dia tidak bodoh.

Dia tahu bahwa dia bukanlah yang pertama.

Bukan satu-satunya.

Namun entah kenapa… rasanya dia bukan sekadar orang lain.

Karena Allen menciumnya seolah-olah dia adalah pusat dunianya.

Dan ketika dia gemetar, dia tidak menunjukkan rasa kesal. Atau puas diri. Atau kecewa.

Dia telah menunggu.

Dia menggigit bibirnya.

Ya Tuhan, jenis romansa gelap dan menjijikkan macam apa yang telah dia temui?

Jantungnya kembali berdebar kencang di dadanya.

Dia tidak hanya jatuh cinta padanya.

Dia sudah terlanjur terlibat.

Dan yang lebih buruk—dia tahu.

Dia tahu bagaimana menyentuhnya tanpa melewati batas. Bagaimana menariknya tanpa memaksanya jatuh cinta. Dia menggoda seperti penjahat dan mundur seperti seorang pria terhormat. Sebuah paradoks berjalan dengan mata yang indah dan tangan yang lembut tanpa makna.

Azura memeluk bantal itu lebih erat.

Dia mengira Kaisar Iblis itu akan menjadi seorang tiran. Dingin. Kejam. Manipulatif.

Bukan… ini.

Bukan seseorang yang akan menciumnya hingga kehabisan napas, lalu berhenti tepat sebelum ia kehilangan kendali. Bukan seseorang yang akan berkata “santai saja” dengan suara selembut beludru bercampur asap.

Dia mengerang untuk terakhir kalinya, lalu menatap ponselnya di seberang meja.

Dia tidak akan mengirim pesan teks kepadanya. Tidak. Itu akan terlihat lemah.

Oke, mungkin itu hanya sebuah meme.

TIDAK.

Dia duduk tegak, memarahi dirinya sendiri, dan mengambil segelas air seperti orang dewasa yang bertanggung jawab. Kakinya masih terasa gemetar. Dadanya masih hangat. Dan senyumnya belum sepenuhnya hilang.

Inilah permulaannya.

Dan dia tidak tahu bagaimana akhirnya.

Namun untuk kali ini— Dia tidak takut jatuh.

Tidak dengannya.