Lewati ke konten utama

Penjahat MMORPG: Kaisar Iblis Mahakuasa dan Tujuh Istri Iblisnya — Chapter 1134

Penjahat MMORPG: Kaisar Iblis Mahakuasa dan Tujuh Istri Iblisnya

Chapter 1134

Bab 1134 – Jika Kamu Takut Kalah, Kamu Akan Berakhir Tanpa Apa Pun

Penjahat Bab 1134. Jika Kau Takut Kalah, Kau Akan Berakhir Tanpa Apa Pun

Azura terdiam, pikirannya berpacu mengikuti kata-katanya.

“Aku khawatir bahwa pada akhirnya, cinta saja tidak cukup.”

Dia merasakan sesuatu bergejolak di dalam dirinya, sesuatu yang tidak nyaman namun familiar. Sikapnya yang biasanya tenang dan terkendali goyah.

“Mengapa?” tanyanya, suaranya lebih lembut dari biasanya, sedikit ragu. “Mengapa cinta saja tidak cukup? Apakah cinta tidak cukup berharga bagimu?”

Pertanyaan itu sebenarnya bukan untuk Zael. Itu untuk dirinya—Azura, wanita yang bangga akan kemandiriannya, karena tidak pernah membiarkan emosinya mengendalikan tindakannya. Namun, setelah ia jatuh cinta pada Allen, segalanya mulai berubah. Ia mulai mempertanyakan segalanya, bahkan perasaan yang ia kira telah ia pendam. Cinta telah menjadi konsep asing baginya, sesuatu yang membuatnya takut dengan cara yang tidak ia duga.

Zael menatapnya dengan semacam pengertian yang lembut. Ekspresinya lembut namun dengan kesedihan yang sama yang telah ada sejak awal percakapan mereka. “Ini sangat berharga.” Dia ragu-ragu, suaranya bergetar dengan sesuatu yang membuatnya tampak lebih manusiawi. “Ini… sangat berharga. Tetapi keadaan, segala sesuatu di sekitar kita—itulah yang membuatku mempertanyakannya. Aku ingin mempertahankannya, tetapi aku takut kehilangannya. Ketakutan itu… itulah yang membuatku terjebak dalam pikiran ini.”

Napas Azura sedikit tersengal-sengal, dadanya terasa sesak saat ia mencerna kata-kata pria itu. Ia tidak menduga ini. Ia tidak menyangka sebuah AI—karakter dalam sebuah game—akan merespons dengan cara yang begitu menyentuh hatinya, menggemakan keraguan yang selama ini ia rasakan. Bagaimana mungkin karakter ini, seorang pria yang diciptakan untuk sebuah alur cerita, dapat berbicara tentang sesuatu yang begitu pribadi, begitu tertanam dalam hatinya sendiri?

Dia terdiam, pandangannya menunduk saat pikirannya berputar.

‘Takut kehilangan…’

Kata-kata itu terngiang di benaknya. Ia pernah menutup hatinya karena ketakutan itu—takut kehilangan apa yang paling ia sayangi. Dan sekarang, dengan perasaannya yang rumit terhadap Allen, ia mempertimbangkan untuk melakukannya lagi. Ia telah meyakinkan dirinya sendiri bahwa hubungan mereka buntu, bahwa hubungan itu tidak akan pernah berhasil. Tapi sekarang… sekarang ia tidak begitu yakin.

Zael mengamatinya dengan saksama, matanya lembut dan penuh pengertian, seolah-olah dia bisa merasakan pergolakan batin yang berkecamuk di dalam dirinya.

“Jika kau takut kalah, kau akan berakhir tanpa apa pun.” Kata-kata Azura keluar dengan pelan, hampir seperti bisikan. Itu adalah kata-kata yang perlu ia dengar sendiri.

Zael tersenyum getir, menggelengkan kepalanya sedikit. “Aku tahu. Tapi rasa takut kehilangan adalah sesuatu yang lebih menakutkan daripada apa pun bagiku.” Suaranya bergetar. Dia tidak hanya berbicara tentang kerajaan atau tugasnya lagi. Ini masalah pribadi. Ketakutannya, keraguannya—semuanya nyata baginya seperti halnya bagi manusia mana pun.

Bibir Azura terkatup rapat, pikirannya dipenuhi berbagai macam pikiran yang bertentangan. Dia tidak setuju dengannya—dia tidak bisa. Dia pernah menutup diri karena rasa takut yang sama, dan itu membuatnya hampa. Sekarang, menghadapi persimpangan yang sama lagi, dia menyadari betapa salahnya itu. Betapa jauh lebih menyakitkan untuk pergi karena takut daripada mengambil risiko kehilangan sesuatu yang berharga.

Jantungnya berdebar kencang di dadanya. Dia menatap Zael. Dan sebelum dia sempat berpikir, sebelum dia bisa menghentikan dirinya sendiri, Azura bertindak impulsif.

Tanpa peringatan, dia mengulurkan tangan, menangkup kepala Zael dengan kedua tangannya dan menariknya ke arahnya. Bibirnya menempel di bibir Zael, sebuah ciuman berani dan penuh gairah yang membuat Zael—dan semua orang—benar-benar terkejut.

Mata Zael membelalak kaget, tubuhnya membeku sesaat saat ia mencerna apa yang baru saja terjadi. Tapi dia tidak menarik diri. Tangannya melayang di udara seolah tidak yakin harus berbuat apa, tetapi dia tidak melawan.

Di sekitar mereka, yang lain juga sama terkejutnya. Mila tersentak pelan, matanya membelalak saat menyaksikan kejadian itu, wajahnya memerah. Bahkan Elio, Father Alex, dan Red King, yang beberapa saat sebelumnya bercanda pelan, terdiam, seringai mereka memudar saat mereka saling bertukar pandangan tak percaya.

Itu hanya berlangsung sesaat. Azura segera mengakhiri ciuman itu, menarik diri tetapi masih memegang wajah Zael di kedua tangannya. Matanya menyala penuh intensitas, jantungnya berdebar begitu kencang hingga ia yakin Zael bisa mendengarnya. Ia menatapnya tajam, bibirnya sedikit terbuka seolah hendak berbicara—tetapi untuk sesaat, kata-kata itu tak kunjung keluar.

Akhirnya, ia menemukan suaranya, dan suara itu dipenuhi emosi yang tak ia duga. “Cinta saja tidak cukup, tapi bukan berarti kau harus menyerah. Kau harus berjuang untuk sesuatu yang berharga bagimu. Jangan biarkan rasa takut mengendalikanmu. Kau harus memperjuangkannya!” Kata-kata itu keluar dengan cepat, mentah dan penuh dengan frustrasi yang selama ini ia pendam. Ini bukan hanya tentang Zael lagi—ini tentang dirinya. Tentang Allen. Tentang semua hal yang selama ini ia hindari.

Zael berkedip, jelas terkejut dengan ledakan emosinya yang tiba-tiba. Bibirnya sedikit terbuka, tetapi tidak ada kata-kata yang keluar. Sebaliknya, dia menatapnya dengan mata lebar, seolah mencoba memahami tidak hanya ciuman itu tetapi juga makna di balik kata-katanya.

Azura menggigit bibirnya. Dia tahu dia baru saja melakukan langkah berani.

Akankah para pengembang mengusirnya dari acara tersebut? Apakah dia telah melewati batas?

Untuk sesaat, kepanikan terlintas di benaknya. Tetapi ketika tidak terjadi apa-apa—tidak ada teleportasi mendadak, tidak ada hukuman—dia menghela napas lega yang selama ini tanpa disadarinya ditahannya.

Zael perlahan mengulurkan tangan dan menggenggam tangannya. Sentuhannya lembut, hati-hati, seolah ia takut merusak momen itu. Matanya melembut, dan untuk pertama kalinya, kesedihan di dalamnya tampak mereda, sedikit saja.

“Terima kasih…” Suaranya hampir tak terdengar, namun penuh rasa syukur. Ia menariknya ke dalam pelukan lembut, menempelkan dahinya ke dahi wanita itu. Sentuhannya lembut, hampir penuh hormat, seolah ia takut melepaskannya. “Kau benar. Mungkin… aku terlalu takut. Aku tidak terbiasa… berjuang untuk diriku sendiri.”