Lewati ke konten utama

Penjahat MMORPG: Kaisar Iblis Mahakuasa dan Tujuh Istri Iblisnya — Chapter 1668

Penjahat MMORPG: Kaisar Iblis Mahakuasa dan Tujuh Istri Iblisnya

Chapter 1668

Bab 1668 – Jangan Pernah Bermain Adil

Penjahat Bab 1668. Jangan Pernah Bermain Adil

Sementara itu, Alice tetap berlutut, di antara kedua kakinya lagi — tetapi sekarang bukan dengan rasa hormat, bukan sekadar hormat. Melainkan dengan penuh perhatian. Seperti seorang cendekiawan yang akan mempelajari relik paling suci. Bibirnya menyentuh bagian dalam pahanya. Ciuman yang begitu lembut sehingga seharusnya tidak membuat alat kelaminnya berkedut seperti itu.

Tapi memang terjadi.

Bella menunduk dan berbisik ke telinganya, suaranya bagaikan selubung renda rayuan. “Anda tampak tegang, Tuanku. Mari kita puja beban yang Anda pikul…”

Allen terkekeh pelan, tapi serak. “Ini yang kau sebut ibadah?”

Bella menyeringai, menjulurkan lidahnya di sepanjang telinga pria itu. “Ini agama baru.”

Dia tidak bisa berbohong.

Dia menyukai ini.

Tidak—dia mendambakan ini.

Bahayanya. Pembalikan keadaan. Bagaimana dia, seorang Kaisar Iblis, kini menjadi objek obsesi mereka. Bagaimana bibir mereka bergerak seperti doa di kulitnya — bukan memohon, tetapi menuntut.

Jari-jari Alice melingkari batang penisnya — kini telanjang, penuh percaya diri, kehangatan tubuhnya berdenyut di tangannya seperti detak jantung kedua.

“Mmm…” gumamnya. “Kamu sudah tegang.”

Dia menyipitkan matanya. “Karena kalian berdua tidak pernah bermain adil.”

Alice tersenyum menatapnya—perlahan, nakal—lalu mencium pangkal penisnya, hanya sekali. Ciuman yang terasa seperti api dan ejekan.

“Kau tidak butuh keadilan. Kau butuh penyembahan.”

Ekor Bella melingkari pergelangan tangannya, dengan lembut menarik tangannya ke dadanya. Dia meletakkannya di sana—tepat di bawah lekukan dadanya, membiarkannya merasakan irama detak jantungnya yang berdebar kencang.

“Kami memimpikan ini, Allen,” bisiknya. “Kami terbangun basah kuyup dan kesakitan karenamu.”

Allen menghembuskan napas, tajam dan tidak teratur.

Mulut Alice menyusuri batang penisnya, perlahan dan penuh hormat, napasnya hangat di setiap inci tubuhnya. Dia tidak memasukkannya ke dalam mulutnya—belum. Dia hanya mencicipi. Menggoda. Seolah dia ingin menikmati setiap momen saat penisnya terlepas.

“Aroma tubuhmu berubah,” gumam Alice. “Apakah kau tahu apa dampaknya bagi kita?”

Bella menunduk dari bahunya, mengecup garis rahangnya. “Itu membuat kami basah. Kau membuat kami gila.”

Dan dia bisa merasakannya.

Kulit Bella yang licin menempel di sisinya, lekuk tubuhnya yang lembut menggodanya di setiap tarikan napas. Cara kakinya melengkung di sampingnya, pinggulnya bergesekan lembut dengan pahanya. Aroma panas dan api rubah di udara.

Dan Alice—

Lidahnya menjilat ujung ereksinya sekarang, perlahan dan malas.

Jari-jari Allen melengkung ke sandaran tangan.

“Alice…” dia memperingatkan, suaranya tercekat karena menahan diri.

Namun dia malah tersenyum lebih lebar. “Ya, sebut namaku seperti itu.”

Akhirnya dia memasukkannya ke dalam mulutnya — hanya bagian kepalanya, bibirnya melingkarinya seperti sutra.

Panas. Basah. Berbahaya.

Matanya terpejam sesaat, suara pelan keluar dari bibirnya — bukan erangan, bukan juga. Lebih tepatnya geraman.

Bella terkikik di sampingnya, kuku-kukunya menelusuri perutnya.

“Ohh~ Itu dia,” bisiknya. “Suara yang dia buat saat hampir hancur berantakan.”

“Diamlah,” gumam Allen.

“Kamu menyukainya,” dia bernyanyi.

Dan dia benar. Dia memang menyukainya. Cara mereka mencicipinya. Cara mereka memandanginya seperti bintang gelap yang mengorbit. Cara tangan Bella menyusuri perutnya seolah sedang memetakan rasi bintang di kulitnya. Cara Alice menghisap dengan lembut, lalu menarik kembali untuk menyeret bibirnya di sepanjang batang penisnya seperti dosa yang dengan bangga dia lakukan.

“Aku menginginkan lebih,” bisik Alice.

“Kau akan mendapatkannya,” geramnya, sambil sedikit memiringkan pinggulnya ke depan.

Napas Bella tercekat — dia merasakan gerakan, pergeseran tubuhnya.

“Jangan menggoda kami,” bisiknya. “Kami sudah liar.”

Allen menoleh, bertatapan dengannya.

“Kalau begitu, buktikan.”

Bella menciumnya—dengan keras, dalam, dan dengan mulut terbuka. Tubuhnya bergetar di pelukannya, pahanya bergeser di pangkuannya, dan dia bisa merasakan betapa basahnya Bella—kehangatan manisnya menyentuh kakinya.

Di bawah, Alice mendesah pelan di batang penisnya, tangannya sedikit mengencang di pangkalnya, lidahnya menggerakkannya seolah-olah dia kecanduan rasa penisnya. Dia menciumnya, mencicipinya, menghisapnya.

Seluruh tubuh Allen terasa seperti terbakar.

Namun — dia tidak menyerah.

Belum.

Karena terlepas dari rayuan mereka — terlepas dari cara mereka menelanjanginya dengan jari, mulut, dan hasrat yang membara — dia tetaplah Kaisar.

Dan ketika dia akhirnya mengambil kembali kendali?

Itu akan menjadi hukuman ilahi.

Tapi untuk sekarang…

Dia mengizinkan mereka beribadah.

Karena setiap saat mereka mencicipinya seperti mangsa, mereka lupa bahwa dia masih tetap sang predator.

Dan ketika takhta itu berseru lagi, berderak pelan saat tubuh mereka berhimpitan dalam gairah dan penyembahan?

Allen tersenyum.

Dan membiarkan dirinya terbakar.

Bella merasakannya lebih dulu.

Bukan senyumannya — tapi pergeserannya.

Seolah udara itu sendiri melengkung ke dalam. Seolah gravitasi mengingat siapa pemiliknya. Satu detik sebelumnya, dia melingkari tubuhnya, tertawa di kulitnya, menggodanya. Detik berikutnya, pahanya menegang secara naluriah. Napasnya tersengal-sengal. Bulu kuduknya berdiri.

Karena Allen sudah tidak lagi merespons.

Dia sedang memutuskan.

Sesaat kemudian, tangannya melesat di antara kedua kakinya — berani, tanpa penyesalan, sengaja — dan jari-jarinya menusuk ke dalam dagingnya yang licin dan nyeri seolah-olah dia tahu persis berapa lama dia telah memohon ini tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Suaranya bergetar.

“A-Ah—!”

Punggungnya melengkung saat sandaran singgasana menyentuh tulang punggungnya. Jari-jarinya melengkung, menarik, bermain-main — perlahan pada awalnya, seolah-olah dia sedang membiasakan diri kembali dengan miliknya.

Pikiran Bella berhamburan seperti abu tertiup angin.

Dia menyentuhnya seolah-olah dia memiliki cetak biru dari kebutuhannya. Seolah-olah dia telah menghafal setiap kedutan, setiap kontraksi, setiap ritme yang dibuat tubuhnya ketika mencapai titik puncak yang menghancurkan itu.

Dan, dia benar.

Dia menggigit bibirnya dengan keras, untuk menahan tangisan yang hampir keluar.

Ekornya bergetar—setengah nafsu, setengah pasrah—tak mampu menyembunyikan panas basah yang meresap di antara pahanya, membasahi telapak tangannya, pikirannya hanya bisa berkata ya ya ya lagi, kumohon lagi, jangan berhenti—

Lalu suaranya, bagai beludru yang membungkus sebilah pisau:

“Terlalu sombong,” gumamnya.