Bab 1735: Ereksi Pagi
Penjahat Bab 1735. Ereksi Pagi
Pagi berikutnya.
Dia tidak langsung terbangun.
Itu terjadi secara bertahap, seperti pasang surut air laut.
Seperti gelombang pasang yang tak meminta izin—hanya menyelinap ke celah kesadaranmu, membanjiri dadamu dengan kehangatan, lalu pahamu, kemudian napasmu.
“Hm?”
Suara itu bahkan bukan sebuah kata, hanya rintihan jiwa yang melayang di suatu tempat antara mimpi dan tubuh. Allen masih setengah tertidur, hanyut dalam kabut lembut di mana pikiran tidak memiliki bentuk dan waktu belum ada. Tapi ada sesuatu yang salah.
TIDAK.
Tidak salah.
Hanya… berbeda.
Ada rasa panas—dalam dan berdenyut, seolah-olah merambat keluar dari bawah kulitnya dan melingkar perlahan dalam spiral di perutnya. Dan sesuatu yang lain. Sebuah sensasi. Hampir tak terdengar pada awalnya. Gerakan.
Rendah. Berkepanjangan.
Cukup lembut untuk membingungkan. Cukup berani untuk membangunkannya dari tidur.
Dia mencoba bergerak, otot-ototnya meregang secara otomatis—tetapi dia tidak bisa. Tubuhnya tidak merespons dengan benar. Bukan karena kelemahan, bukan. Dia terjepit.
Kesadaran itu memecah lamunan pikirannya yang masih linglung, membawanya lebih jauh ke alam sadar. Alisnya sedikit berkerut, masih terlalu lelah untuk membuka mata sepenuhnya, tetapi cukup untuk merasakan…
Basah.
Hangat.
Dan sangat, sangat spesifik.
Sebuah erangan keluar dari mulutnya sebelum dia sempat menahannya. Bukan erangan tajam. Bukan erangan terkejut. Hanya… tak berdaya. Seolah tubuhnya telah memilih kenikmatan daripada kesadaran dan menyeret seluruh tubuhnya ikut serta.
Matanya terbuka.
Dan dunia pun terfokus.
Saat itu pagi. Mungkin masih pagi sekali. Cahayanya pucat, bermandikan keemasan, datang dari sudut yang hanya berarti satu hal… terlalu pagi untuk berpikir rasional.
Selimut terhampar sebagian. Bantal remuk di bawah anggota tubuh yang saling berbelit. Panas, tubuh, dan napas.
Dia menunduk.
Dan di sanalah dia berada.
Jane.
Di antara kedua kakinya, punggungnya melengkung seperti dosa dan berkah, lidahnya menjilat perlahan dan sengaja dari pangkal penisnya hingga ujungnya. Seperti permen lolipop.
Dia tidak terburu-buru. Itulah yang memperburuk keadaan. Kesabaran itu. Kekaguman itu.
Tenggorokan Allen berderak. Pinggulnya bergerak tak sadar, dan dia menahan erangan lagi, kali ini lebih tertahan, lebih kasar—karena melihatnya membuatnya berbeda. Lebih nyata. Lebih lapar.
Jane mendongak menatapnya, bibirnya memerah, matanya bersinar seolah-olah dia baru saja menemukan rahasia di balik kulitnya dan berencana untuk menulis namanya di atasnya.
Dan sebelum dia sempat berbicara, sebelum dia bahkan bisa menyadari detak jantungnya sendiri…
Alice menciumnya.
Ia mencondongkan tubuh dari sebelah kirinya, berat badannya menggeser kasur, jari-jarinya menyentuh pipinya saat bibirnya menyentuh bibir pria itu. Lembut. Hangat. Tegas. Seperti anjing laut. Seperti sebuah perintah.
Dia mengeluarkan suara lain, bukan erangan melainkan kebingungan, tetapi wanita itu menerimanya seperti sebuah hadiah.
Mulutnya tidak meminta. Ia mengambil, tetapi tidak dengan kejam. Seolah-olah itu adalah haknya. Seolah-olah dia sudah berhak atas setiap bagian dari dirinya, termasuk napasnya.
Tangannya menyusuri dadanya, perlahan dan penuh pencarian, seolah-olah dia sedang menghafalnya dengan setiap inci telapak tangannya.
Lalu dia menarik diri, matanya setengah terpejam.
“Selamat pagi, Allen,” bisiknya.
Suaranya serak, sudah parau. “Ini… pagi yang benar-benar berbeda.”
Alice tersenyum, dan itu membuat tubuhnya terasa nyeri di bagian-bagian yang bahkan tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
“Kupikir kami akan memberimu kejutan,” katanya, suaranya rendah, lembut, dan sangat tenang. “Membuatmu bangun dengan perasaan diinginkan.”
Dia mencoba bernapas.
Saat itulah dia menyadari beban di belakang kepalanya. Lembut. Berat. Kulit telanjang menempel di ubun-ubunnya, tekstur tubuh yang hangat dan selembut sutra. Aroma samar sampo, tidur, dan wanita.
Dia memiringkan kepalanya sedikit.
Vivian.
Dia sedang beristirahat di pangkuannya.
Lebih tepatnya, di pangkuannya yang telanjang.
Pelipisnya menyentuh lekukan dadanya, dan dia hampir mengerang lagi karena tentu saja—tentu saja—Vivian telanjang, menyaksikan kejadian ini dengan seringai lambat dan penuh pengamatan seperti biasanya.
Hanya saja kali ini, tangannya berada di rambutnya. Mengelus.
Bukan menggoda. Bukan mengejek.
Tepat di sana. Stabil. Berirama.
Seolah-olah dia menstabilkan dirinya. Seolah-olah dia adalah langit dan dia berputar-putar, dan ini—ini—adalah benang yang mencegahnya hancur berantakan.
“Kau tampak kewalahan,” gumamnya sambil menyisir rambutnya dari dahi.
Allen mengedipkan mata menatapnya.
“Aku—” dia mencoba.
Dia tidak menyelesaikannya.
Karena mulut Jane telah menelan sisa kalimat tersebut.
Ia mendesah pelan di sekelilingnya, dan suara itu bergetar di tulang punggungnya seperti kilat yang terperangkap di beludru. Jari-jarinya mencengkeram seprai begitu kuat hingga kusut, berusaha berpegang pada sesuatu saat segala sesuatu yang lain dilucuti darinya—logika, rasa malu, pengendalian diri.
“Sialan…” gerutunya.
Alice kembali mencondongkan tubuhnya, berbisik ke telinga kirinya.
“Izinkan kami menjagamu.”
Dan justru itulah, lebih dari sekadar mulut, tangan, dan kulit, yang membuat sesuatu retak.
Karena Allen tidak terbiasa dirawat.
Dia terbiasa mengendalikan. Terbiasa menjadi orang yang punya rencana, keunggulan, suara tenang di tengah kekacauan. Tapi sekarang, dia terekspos, secara harfiah dan metaforis. Ditahan bukan dengan paksaan, tetapi dengan keintiman. Pemujaan. Jenis pemujaan yang tidak menuntut imbalan apa pun kecuali penyerahannya.
Vivian menelusuri garis rahangnya dengan ibu jarinya.
Jane melepaskan diri darinya dengan suara lembut dan mendongak, terengah-engah. Dagunya berkilau. Matanya dipenuhi sesuatu yang bukan sepenuhnya kebanggaan, bukan sepenuhnya rasa lapar—sesuatu yang lebih suci. “Kau terasa seperti masalah,” katanya sambil menyeringai. “Aku menyukainya.”
Dia menutup matanya dengan satu tangan, mengerang lagi. “Ini tidak nyata.”
“Ini bukan mimpi,” kata Alice sambil mencium tulang selangkanya. “Meskipun aku tidak keberatan jika itu mimpi.”
Vivian menunduk, dadanya menempel di pipinya. “Kamu tidak perlu melakukan apa pun hari ini. Sama sekali tidak. Cukup berada di sini.”
Allen menurunkan tangannya ke samping. Dia menatap langit-langit.
Ruangan itu berbau seperti seks, kulit, dan mawar yang mekar. Jantungnya berdetak terlalu cepat, tetapi itu bukan rasa panik. Itu terasa seperti kekaguman. Seperti kebingungan di hadapan kelembutan yang menurutnya tidak pantas ia dapatkan.
Tangan-tangan menyusuri tulang rusuknya. Ujung jari-jari di perutnya. Sebuah ciuman di pinggulnya. Sebuah gigitan di bahunya.
Dia bahkan tidak tahu lagi sentuhan siapa milik siapa.
Itu tidak penting.
Karena saat dia mengerang lagi—pelan, pilu, dan nyata—mereka semua mengerti kebenarannya.
Allen mulai melepaskannya.
Dan itu? Itu membuat mereka sangat lapar.