Bab 1442 – Kelahiran Penyihir Pertama
Penjahat Bab 1442. Kelahiran Penyihir Pertama
Ruangan itu hening.
Sang penyihir berdiri di ambang sesuatu yang lebih besar dari balas dendam, lebih besar dari kesedihan.
Sebuah pilihan.
Dan dalam senyuman Kaisar Iblis itu, dia melihat sesuatu yang sudah lama tidak dilihatnya.
Kebebasan.
Penyihir itu menatapnya.
Kata-katanya bagaikan racun, penuh godaan, sesuatu yang berbahaya dan memabukkan.
Tetapi…
Dia benar.
Mereka tidak akan pernah berhenti memburunya.
Dunia yang pernah ia coba selamatkan telah memunggunginya. Orang-orang yang ia percayai telah mengkhianatinya. Sihir yang pernah ia hargai telah digunakan untuk menghancurkannya.
Dan sekarang, Kaisar Iblis berdiri di hadapannya, menawarkan sesuatu yang belum pernah dimiliki orang lain sebelumnya.
Bukan simpati.
Bukan kebaikan.
Bukan penebusan.
Tapi kekuasaan.
Dan kesempatan untuk membakar semuanya hingga hangus.
Jari-jarinya rileks, ketegangan di tubuhnya sedikit mereda.
Dia menghembuskan napas perlahan, mata ungu miliknya bersinar dalam kegelapan.
“…Bagus.”
seringai Kaisar Iblis semakin lebar, perlahan dan tajam. “Bagus.”
Dia berbalik, melangkah pergi, meregangkan lengannya seolah-olah baru saja memenangkan permainan yang telah dimainkannya selama berabad-abad. Tatapan merahnya menyapu reruntuhan fasilitas itu, dipenuhi dengan ejekan dan hiburan.
“Kalau begitu,” gumamnya, “bagaimana kalau kita mulai dengan mengutuk tempat terkutuk ini?”
Jari-jari penyihir itu berkedut di sisi tubuhnya, sihirnya melilit seperti ular di pergelangan tangannya.
Senyum sinis kaisar berubah menjadi kejam.
“Mari kita ingatkan mereka,” katanya dengan suara rendah, dipenuhi sesuatu yang gelap dan primitif, “mengapa mereka tidak boleh bermain-main dengan kegelapan.”
Dia mengangkat tangannya.
Dan dunia pun bergetar.
Kegelapan datang seketika.
Bukan hanya ruangannya. Bukan hanya gerbangnya.
Seluruh fasilitas.
Bayangan-bayangan menyebar, untaian energi jurang yang menjalar seperti wabah, merayap melalui celah-celah, melata di sepanjang dinding yang hancur, melahap sisa-sisa terakhir cahaya buatan.
Kutukan itu menyebar dengan cepat.
Api itu merembes ke lantai bawah, merayap menuruni tangga logam, melahap lorong-lorong tempat para prajurit yang tersisa—mereka yang masih sehat, masih menunggu—bersiap-siap di barak.
Teriakan pun dimulai.
Tersiksa.
Mengerikan.
Putus asa.
Para prajurit yang sehat di lantai dua dan lantai satu tidak punya waktu untuk bereaksi.
Kabut hitam itu meresap ke dalam kulit mereka, membakar mereka seperti cap, mengubah mereka menjadi sesuatu yang lain.
Baju zirah mereka terpelintir, tubuh mereka retak, seragam mereka yang dulunya gagah kini rusak hingga tak dapat dikenali lagi.
Mereka telah menjadi bagian dari dosa fasilitas tersebut.
Dan penderitaan mereka akan abadi.
Kutukan itu tidak berhenti sampai di situ.
Api itu menjalar lebih jauh, melahap lantai pertama, menginfeksi dinding, bahkan struktur bangunan itu sendiri. Udara menjadi pekat dengan bau kematian, aroma daging terbakar, aroma sihir yang salah sasaran.
Jeritan itu bergema tanpa henti, meresap ke dalam fondasi tempat ini, memastikan bahwa bahkan dalam kematian, suara mereka tidak akan pernah terbungkam.
Dan di tengah-tengah semuanya— Kaisar Iblis tertawa.
Rendah. Menyeramkan.
Tawa semacam itu hanya milik sesuatu yang bukan manusia.
Dia berbalik menghadap penyihir itu, menyeringai, matanya menyala-nyala dengan kekacauan murni yang tak terkendali.
Kemudian, tanpa ragu-ragu, dia mengulurkan tangan, melingkarkan lengannya di pinggang wanita itu, dan menariknya mendekat.
Suaranya merendah, berbisik di telinganya.
“Ini,” gumamnya, “adalah melodi yang sempurna untuk kelahiran kembalimu.”
Napas penyihir itu tersengal-sengal.
Dia bisa merasakannya.
Kekuatan yang mengalir deras di pembuluh darahnya, kegelapan yang dulunya terasa begitu asing, begitu tidak wajar, kini merangkulnya seperti seorang teman lama.
Dia pernah patah semangat, tetapi dia tidak lagi hancur berkeping-keping.
Dia adalah sesuatu yang baru.
Dan saat dia berdiri di pelukan Kaisar Iblis, menyaksikan dunia yang telah mengkhianatinya terbakar dari dalam, dia menyadari sesuatu.
Dia tidak menyesalinya.
Kegelapan itu lenyap.
Seperti hembusan napas, sensasi kutukan yang luar biasa, jeritan, kekuatan yang mencekik—semuanya memudar.
Dunia kembali ke tempatnya semula.
Allen dan yang lainnya sekali lagi berdiri di fasilitas yang hancur itu, mesin-mesin yang rusak, Gerbang Jurang yang runtuh, sisa-sisa eksperimen yang gagal dan terdistorsi persis seperti sebelum ilusi itu menguasai mereka.
Satu-satunya bukti bahwa sesuatu telah terjadi hanyalah hawa dingin yang masih terasa, bisikan samar yang telah lama hilang tetapi masih bergema di benak mereka.
Zoe menghela napas panjang dan perlahan. “Wah, itu tadi banyak sekali.”
Bella bergidik, menggosok-gosok lengannya. “Itu bukan sekadar ilusi. Itu… sejarah.”
Alice, masih menatap kursi yang rusak itu, akhirnya menghela napas, suaranya serak. “Jadi begitulah kejadiannya.”
Dia mengucapkan kata-kata itu seolah-olah itu adalah sebuah fakta, tetapi ada sesuatu di baliknya—sesuatu yang belum pernah mereka dengar darinya.
Bukan amarah.
Bukan rasa frustrasi.
Bahkan bukan sindiran.
Hanya… penerimaan.
Zoe, berdiri di sampingnya, menghela napas. “Jujur saja? Aku mengharapkan sesuatu yang lebih buruk. Misalnya, kau dilempar ke jurang dan melawan kengerian gaib selama seribu tahun.”
Alice memutar matanya. “Maaf mengecewakan.”
Jane membetulkan sarung tangannya. “Yah, setidaknya kita tahu kenapa tempat ini terkutuk. Kau bertindak penuh dendam, membakar semuanya, lalu menghilang di malam hari.”
Bella menyeringai. “Ya, tapi dia melakukannya sambil membuatnya terlihat modis.”
Alice mendengus kesal sambil menggelengkan kepalanya. “Kalian membuat seolah-olah aku menikmatinya.”
Vivian terkekeh. “Bukankah begitu?”
Alice ragu-ragu.
Dan Allen berhasil menangkapnya.
seringainya semakin lebar, tetapi sebelum dia bisa mengatakan apa pun— Gerbang Jurang itu berkedip.
Gelombang energi menyebar ke luar, mengirimkan getaran ke seluruh udara. Logam yang hancur itu bergetar, rune yang retak di sepanjang permukaannya kembali menyala, berkelap-kelip dengan kekuatan yang tidak stabil.
Suhu turun drastis. Bayangan di sepanjang dinding semakin gelap, membentang secara tidak wajar, merambat di sepanjang lantai yang rusak seolah-olah memiliki pikiran sendiri.
Dan Allen mengetahuinya.
Ini belum berakhir.
Tatapan merahnya tertuju pada gerbang itu. “Belum selesai.”
Larissa menegang. “Apa maksudmu?”
-LEDAKAN!
Sebuah kekuatan dahsyat meletus dari gerbang itu, denyutan energi abyssal murni melesat ke arah mereka seperti badai yang dilepaskan dari neraka itu sendiri.
“MINGGIR!” bentak Allen.
Tim itu berpencar, menghindar saat energi gelap menghantam tanah tempat mereka berdiri beberapa detik sebelumnya, mengubah bentuk lantai, dan meninggalkan bekas luka menganga berupa sihir yang terdistorsi.
Udara berderak. Kegelapan berputar, melingkar, membentuk suatu wujud, sesuatu yang bergeser, sesuatu yang muncul. Kemudian, ia mengambil bentuk.
Sesosok tubuh melayang di hadapan mereka, badannya hampir tak berwujud, seluruh wujudnya diselimuti kabut hitam yang berputar-putar, rambut panjangnya terurai seperti tinta di dalam air.