Lewati ke konten utama

Penjahat MMORPG: Kaisar Iblis Mahakuasa dan Tujuh Istri Iblisnya — Chapter 1784

Penjahat MMORPG: Kaisar Iblis Mahakuasa dan Tujuh Istri Iblisnya

Chapter 1784

Bab 1784: Pohon yang Berbisik [Bagian 2]

Penjahat Bab 1784. Pohon yang Berbisik [Bagian 2]

Bukan Jane, yang terdiam.

Bukan Zoe, yang terpaku di tengah langkahnya.

Bukan Shea, Vivian, Larissa, atau Alice.

Suara itu bukan milik anak-anak perempuannya.

Dan kemudian itu terjadi lagi.

“Keadilan tidak pernah buta.”

Kali ini—mereka semua mendengarnya.

Udara tiba-tiba menjadi dingin. Seolah suhu turun sepuluh derajat dalam sekejap.

Angin berhembus melintasi lapangan, mendesis melalui rumput yang layu, menyapu abu dari tanah yang beberapa detik sebelumnya tidak ada di sana. Gadis-gadis itu secara naluriah meraih senjata mereka, membentuk barisan longgar di sekitar Allen.

Itu bukan penyergapan.

Itu adalah sebuah pencerahan.

Bisikan itu datang lagi—bukan dari udara, tetapi menembus udara.

Lalu mereka berbalik.

Ke pohon itu.

Benda besar dan berbelit-belit—kayu yang menghitam, dengan kulit kayu yang tampak seperti obsidian retak dan batang yang berpilin dengan begitu banyak lingkaran pertumbuhan sehingga terasa seperti telah ada sebelum peta ditemukan. Akarnya mencengkeram bumi seperti cakar.

Mereka belum menyadarinya sebelumnya.

Itu terlalu besar untuk dilewatkan.

Tapi sebelumnya tidak ada di sana.

Bukan seperti ini.

Batang pohon itu berderit seperti orang tua yang bernapas.

Lalu kulit kayunya terbelah.

Tidak dengan kekerasan.

Tidak dengan keras.

Itu terbuka seperti tirai.

Menampakkan bagian tengah yang berongga dengan cahaya merah yang berdenyut dan abu yang berterbangan, seperti luka di dunia.

Allen melangkah maju—karena tentu saja dia melakukannya—dan ketika sepatunya menyentuh tepi akar, HUD-nya mengalami gangguan.

Sekali saja.

Kemudian.

[Acara Terpicu: Pohon Berbisik]

“Kenangan yang terkubur dalam abu masih tetap menyala.”

Allen tidak bergerak.

Karena sesuatu tergerak baginya.

Pandangannya berubah.

Bukan dalam gaya sinematik. Bukan adegan potong. Bukan sudut pandang orang ketiga.

Itu adalah narasi orang pertama.

Perspektif orang lain.

Tangannya berbeda.

Lebih lebar. Kapalan. Mengenakan baju zirah hitam dan perak.

Bukan perlengkapan iblis—melainkan baju zirah kerajaan. Gaya dunia lama. Dipoles dan dilapisi dengan filigran emas.

Dan di sekelilingnya—

Jeritan.

Merokok.

Sebuah desa yang terbakar.

Anak-anak menangis. Tentara berteriak.

Orang-orang mengemis.

Dan suara itu—suaranya—tapi sebenarnya bukan suaranya, bergema dengan nada memerintah.

“Bakarlah semuanya. Jangan tinggalkan satu pun. Desa ini pernah melindungi Sang Peramal.”

Napas Allen tercekat.

Tubuhnya di dalam bayangan itu tidak bergeming.

Tapi dia melakukannya.

Tangan yang mengenakan sarung tangan terangkat, memberi isyarat untuk menyerang.

Pedang-pedang di sekelilingnya berkilauan di bawah cahaya api saat pasukan lapis baja menyerbu maju.

Itu bukanlah momen heroik.

Itu adalah pembantaian.

Darah di atas batu.

Api menjalar di atas atap jerami.

Seorang wanita berlari menuju sumur bersama bayinya—panah menembus punggungnya di tengah lari kencangnya.

Dia mencoba menarik diri—tetapi tubuhnya terkunci di dalam ingatan itu seperti sebuah penjepit.

Dia merasakannya.

Panasnya.

Berat baju zirah tersebut.

Kepuasan terpancar dari napas prajurit di sampingnya.

Tidak adanya penyesalan dalam suara yang mengucapkan kata-katanya sendiri.

“Keadilan adalah kejelasan. Belas kasihan adalah pandangan yang kabur.”

Dia tahu kalimat itu.

Dia pernah mengatakan hal serupa. Saat dia mengalahkan para pemain.

Tapi bukan seperti ini.

Penglihatan itu kembali seperti karet gelang yang ditarik.

Dia terhuyung mundur dari pohon sambil terengah-engah.

Jane meraihnya. “Allen?! Kamu baik-baik saja?! Apa yang kamu lihat?”

Dia tidak langsung menjawab.

Matanya masih tertuju pada pohon itu.

Lalu dia berkata dengan suara pelan, “Itu aku… tapi bukan aku.”

Dia menunduk melihat tangannya. “Aku yang memerintahkan pembantaian itu.”

Vivian melangkah mendekat, suaranya terdengar tegang. “Pohon itu menunjukkan sesuatu padamu, bukan?”

“Itu menunjukkan kepadaku perang yang belum pernah kuikuti,” gumam Allen. “Tapi aku ada di sana. Dalam tubuh orang lain. Seseorang yang mengenakan mahkota dan baju zirah. Aku memberi perintah. Mereka menurut.”

Kerutan di dahi Larissa semakin dalam. “Kau pikir itu pohonnya? Seperti jiwanya?”

Allen mengangguk perlahan. “Ya… tapi suara itu. Rasanya seperti—dia memanfaatkan aku untuk mengingat. Atau aku yang memanfaatkannya.”

Bisikan baru menyebar di antara pepohonan.

“Gema hidup lebih lama daripada manusia.”

Kulit kayunya berdenyut merah.

Notifikasi kedua muncul.

[Jangkar Memori Terbentuk]

[Pikiran Sipir Caelreth terjalin dengan pikiranmu.]

[“Untuk melangkah maju, kamu harus memikul beban masa lalunya.”]

[Tujuan Baru: Temukan tempat di mana keadilan telah mati.]

Zoe bergumam pelan, “Oke, misi ini baru saja meningkat levelnya dari menyeramkan menjadi terkutuk.”

Alice berkata, “Ini bukan sekadar tautan memori. Ini adalah lapisan identitas. Kita sedang melakukan sinkronisasi dengan jejak jiwanya.”

Alis Jane berkerut. “Jadi… Allen adalah pembawa acaranya?”

Allen tidak gentar. “Tidak. Akulah cerminnya.”

Vivian kembali mendekat. “Kalau begitu, mari kita cari tahu apa yang dipantulkan… dan apa sebenarnya yang dia inginkan darimu.”

Allen tidak menjawab. Dia hanya mengangguk.

Sepatunya menekan tanah yang menghitam, berderak menembus lapisan abu tua dan dedaunan rapuh saat ia melangkah maju. Gadis-gadis itu bergerak bersamanya—tanpa candaan, tanpa ejekan.

Akar pohon di belakang mereka bergetar.

Denyutan yang lambat dan dalam melalui tanah—seperti napas sesuatu yang purba yang dihembuskan di bawah kaki mereka.

Kemudian-

Suara itu kembali.

Kali ini lebih lembut. Bukan bisikan, bukan perintah.

Sesuatu di antara keduanya. Sesuatu yang terasa seperti… mengingat.

“Semoga kamu menemukan tujuan hidupmu dalam perjalananmu…”

“…dan alasan mengapa kamu masih di sini.”

Langkah mereka terhenti.

Tidak ada yang perlu mengatakan apa pun.

Itu adalah naluri.

Mereka berbalik—perlahan—menghadap pohon itu sekali lagi.

Pohon itu menjulang tinggi, gelap dan sunyi, terpelintir di langit merah tembaga. Kulit kayunya retak dimakan waktu, abu berhamburan dari lubang-lubang di batangnya, tempat kenangan tertumpah.

Kemudian arah angin berubah.

Tidak kasar, tidak keras—hanya cukup untuk menggerakkan rambut dan jubah. Hembusan angin dari entah 어디, menyentuh pipi mereka seperti jari-jari tak terlihat.

Mereka berkedip.

Mereka semua.

Dan ketika mata mereka terbuka kembali—

Pohon Berbisik itu telah lenyap.

Tidak ada debu. Tidak ada keruntuhan.

Hanya ketiadaan.

Lahan terbuka itu kini kosong. Sebuah lingkaran akar tertancap di tanah tempat lahan itu pernah berdiri, garis-garis hangus terukir seperti urat di bumi. Langit di atas tidak berubah. Ladang itu tidak bergetar.

Awalnya tidak ada yang berbicara.

Mereka hanya berdiri di sana.

Senjata-senjata itu terkulai lemas di tangan mereka.

Bibir Jane sedikit terbuka seolah hendak mengatakan sesuatu—lalu tertutup kembali.

Apakah ini terasa seperti sesuatu yang nyata?

Tidak… itu bukan kata yang tepat untuk menggambarkannya…

Seperti tersentuh oleh kesedihan yang terlalu tua untuk diungkapkan dengan berteriak.

Dan ya…

Itu sangat emosional.

Mendalam dengan cara yang biasanya tidak memungkinkan dalam permainan ini.

Allen menghela napas. Panjang. Terkendali.

Dia tidak mengatakan “ayo pergi.”

Dia hanya berbalik.

Dan mereka pun mengikuti.

Tidak seorang pun ingin memecah keheningan saat itu.