Bab 1978: Saya Memberikan Hasil
Penjahat Bab 1978. Saya Memberikan Hasil
Allen mengamatinya.
Bukan sekadar seperti seorang pria yang mengagumi seorang wanita.
Namun seperti seorang raja yang menyaksikan seseorang menyerah.
Setiap inci kain satin yang ditariknya ke bawah bagaikan detak jantung yang terhenti. Kilatan senyum jahat lainnya di wajahnya. Bisikan napasnya yang semakin gelap.
Kini ia hanya mengenakan pakaian dalam.
Allen menghela napas.
“Aku suka saat kau mempercayaiku,” gumamnya.
Lalu dia mengulurkan tangan kepadanya.
Dan setiap otot di tubuhnya menegang.
Bukan karena takut.
Namun, hal itu berasal dari pengaruh dan aura yang dimilikinya.
Dia tidak menyentuh mulutnya.
Dia bahkan tidak menciumnya duluan.
TIDAK.
Allen menundukkan kepalanya, napasnya menyentuh tulang selangka wanita itu. Lalu, lebih rendah lagi. Bibirnya menyentuh lekukan bahunya. Jari-jarinya meluncur ke atas pahanya, bukan untuk menggoda.
Namun untuk dimiliki.
Dia tidak meminta izin. Dia tidak perlu melakukannya.
Dia adalah tipe pria yang tahu kapan suatu momen menjadi miliknya. Kapan seseorang menjadi miliknya.
Dan malam ini? Dia pantas berada di sini.
Mulutnya tak terbuka. Ia hanya membiarkan bibirnya bergerak perlahan. Lembut. Menelusuri kulitnya seolah sedang menulis sesuatu yang hanya dia yang bisa membacanya. Jejak kehangatan yang ditinggalkannya membuat wanita itu gemetar, sedikit melengkung… tak cukup untuk melarikan diri, tapi cukup untuk mengejar.
Dia tersentak ketika tangannya bergerak… tidak cepat, tidak serakah, tetapi mantap. Posesif.
“Kau menggigil,” gumamnya di kulitnya.
Dia berbisik balik, “Karena kamu belum menciumku.”
Hal itu membuatnya terkekeh. Sebuah suara rendah dan gelap.
“Menciummu sekarang akan merusak ketegangan,” katanya. “Dan aku menyukaimu seperti ini. Haus akanmu.”
Napasnya tercekat.
Dia mendongak menatapnya, matanya berbayang dan tajam. Lalu, tanpa peringatan, dia meraih tangannya. Membawanya ke wajahnya. Membiarkan jari-jarinya menelusuri garis rahangnya. Tulang pipinya. Lekukan bibirnya.
Lidahnya menjulur keluar, menjilat ujung jarinya… perlahan, dengan sengaja.
Dia menggigit bibirnya.
Lalu, dia menuntun tangannya ke bawah. Melewati dadanya. Tulang rusuknya. Turun ke perutnya, sampai tangannya kembali gemetar.
“Kau merasakannya?” tanyanya.
Dia mengangguk.
“Itulah yang kau lakukan padaku,” katanya, suaranya rendah dan dekat, seperti ancaman yang dibalut beludru. “Jadi jangan berpaling.”
Dia tidak melakukannya.
Tatapan matanya tetap tertuju padanya. Bahkan ketika tangannya menyelipkan ke belakang pahanya dan mengangkatnya perlahan ke tempat tidur. Bahkan ketika dia mencondongkan tubuh ke atasnya, tubuhnya menyentuh tubuhnya tetapi tidak pernah menetap. Bahkan ketika dia berpikir, hanya untuk sesaat, bahwa mungkin kali ini dialah yang akan memegang kendali.
Namun kemudian dia mencoba bergerak.
Berusaha menggeser berat badannya. Mengambil inisiatif.
Dan tangannya menggenggam kedua tangannya… menahan pergelangan tangannya ke seprai di atas kepalanya seolah-olah tidak ada bobotnya sama sekali.
Dia tersentak. “Allen—”
“Tidak,” katanya. Satu kata. Lembut namun tegas.
Tubuhnya melengkung lagi, kali ini tanpa disengaja. Bukan untuk melarikan diri.
Hanya karena dia tiba-tiba sangat menyadari keberadaannya.
Berat badannya. Panas tubuhnya. Dominasinya.
Dia tidak bermaksud menyakitinya. Tapi dia mengingatkannya dengan siapa dia bersama.
Napasnya menjadi lebih cepat. Dadanya naik turun.
Genggamannya tidak kasar.
Namun itu mutlak.
“Kau ingin merasa memegang kendali, bukan?” gumamnya sambil mendekat. Bibirnya melayang tepat di atas bibir wanita itu. Tidak menyentuh. Tidak pernah menyentuh.
Dia merintih. “Allen…”
Tubuhnya kini menekan sepenuhnya. Bobot tubuhnya yang berat menahannya di tempat. Dadanya menempel di dadanya. Kakinya mengapit kakinya. Wajahnya begitu dekat sehingga dia bisa merasakan setiap embusan napasnya.
Dia memiringkan kepalanya. Membiarkan hidungnya menyentuh hidung wanita itu.
“Aku akan menghancurkanmu malam ini,” bisiknya.
“Janji?” gumamnya.
Dia tertawa pelan.
“Saya tidak membuat janji,” katanya. “Saya memberikan hasil.”
Lalu, tepat saat tubuhnya kembali gemetar, dia bergeser. Mencium rahangnya. Tenggorokannya. Giginya menyentuh kulit, tidak sampai melukai, tetapi cukup untuk memberi peringatan.
Ranjang itu berderit samar di bawah mereka. Seprai kusut di tempat tangannya berjuang, sia-sia, di bawah cengkeramannya.
Paha wanita itu meremas pinggang pria itu. Dia mencoba bergerak lagi.
Namun, kekuatannya bukanlah sesuatu yang bisa dilawannya.
Dia tidak bergeming. Tidak mengendur.
Bibirnya menemukan ruang di antara tulang selangkanya dan tetap di sana, menghirup aromanya. Seolah ini bukan tentang kesenangan, melainkan lebih tentang kepemilikan.
Dia membisikkan namanya lagi. Bukan sebagai permohonan. Bahkan bukan sebagai protes.
Bibirnya bergerak ke bawah. Turun ke tempat ujung bra-nya menyentuh kulit. Dia tidak melepaskannya. Hanya menghembuskan napas di atasnya. Membiarkannya menggeliat.
Lalu dia berbisik, “Aku ingin kau mengingat sesuatu.”
“Apa?”
“Bahwa setiap inci dirimu malam ini…” dia berhenti sejenak, mengangkat matanya menatap mata wanita itu, “adalah milikku.”
Bibirnya bergetar. “Aku sudah melakukannya.”
Dia tersenyum, lambat dan penuh dosa. “Katakanlah.”
Dia ragu-ragu.
Dia memberikan sedikit tekanan lebih pada pergelangan tangannya. “Katakan.”
“Aku milikmu,” bisiknya.
“Lebih keras.”
“Aku—milikmu.”
Senyumnya semakin lebar. Dan akhirnya bibirnya menyentuh bibir wanita itu.
Tapi tidak lembut.
Tidak manis.
Itu adalah dominasi yang disamarkan sebagai ciuman. Lidah menyapu masuk, mengklaim, menaklukkan. Satu tangan masih menahan kedua tangannya. Tangan lainnya meluncur ke atas pahanya, melingkari pinggang celana dalamnya.
Dia mengerang ke dalam mulutnya. Melengkungkan tubuhnya lagi.
Dia sedikit menarik diri untuk berbicara.
“Kamu mau lagi?”
“Ya.”
“Kau ingin aku melepaskanmu?”
“TIDAK.”
“Bagus.”
Jari-jarinya menyelip di bawah renda. Bukan lagi menggoda. Bukan lagi menunda-nunda.
Hanya mengambil.
Pinggulnya terangkat, napasnya tersengal-sengal, tetapi dia tetap menahannya.
Dia tidak bisa bergerak.
Tidak bisa berlari.
Tidak mau.
Rasa tak berdaya itu memabukkan.
Karena ini bukan tentang rasa sakit.
Ini tentang penyerahan diri.
Tentang melepaskan sesuatu dengan cara yang membuat jantungnya berdebar kencang, tubuhnya sakit, dan pikirannya lenyap.
Allen melayang di atasnya seperti bayangan yang diselimuti panas. Tatapan di matanya, setengah lapar, setengah peringatan, tak pernah meninggalkannya. Dia mengamati setiap kedutan napasnya, setiap getaran, setiap detik dia lupa berpura-pura bahwa dia bukan miliknya.
Lalu dia merasakannya.
Sensasi dingin yang tiba-tiba saat kulit kulit menyentuh kulitnya.
Sabuk Allen.
Napasnya tercekat.
Dia tidak terburu-buru. Dia meluangkan waktunya. Melepaskan ikat pinggang dari celananya, gesper logamnya berbunyi pelan saat terlepas. Suaranya pelan. Tapi itu bergema di dalam dirinya seperti sebuah janji. Dia tidak butuh rantai. Atau mantra. Atau permainan. Dia punya ini. Hanya satu ikat pinggang dan tatapan seperti perwujudan perintah.
Dan dia menggunakannya.