Lewati ke konten utama

Penjahat MMORPG: Kaisar Iblis Mahakuasa dan Tujuh Istri Iblisnya — Chapter 191

Penjahat MMORPG: Kaisar Iblis Mahakuasa dan Tujuh Istri Iblisnya

Chapter 191

Bab 191 – Pahlawan Tidak Selalu Mendapatkan Kemuliaan

Penjahat Bab 191. Pahlawan Tidak Selalu Mendapatkan Kemuliaan

Seruan ngeri keluar dari bibir Mac saat ia menyaksikan serangan tanpa ampun itu. Tubuh Yora lemas dalam pelukan Mac, darahnya merembes keluar dari luka dan memercik ke wajahnya. Tetesan hangat itu mengalir di pipinya, bercampur dengan kesedihannya sendiri. Itu adalah pengingat mengerikan tentang kenyataan kejam yang mereka hadapi di dunia virtual ini.

Keterkejutan melumpuhkan Mac saat ia menatap tubuh Yora yang tak bernyawa. Matanya melebar tak percaya, menolak untuk menerima pemandangan di hadapannya. Kematiannya yang tiba-tiba menghantamnya seperti sambaran petir, membuatnya mati rasa karena kesedihan dan amarah. Kesadaran bahwa HP-nya telah anjlok menjadi nol tepat di depan matanya adalah pukulan yang menghancurkan.

Yang membuatnya tersadar adalah rasa sakit di tubuhnya. Tatapan Mac beralih ke bawah, dan hatinya hancur saat melihat cakar kaisar iblis menembus perutnya. Rasa sakit yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuhnya, menyebabkan HP-nya anjlok hingga hanya seperempat. Dia bisa merasakan kekuatan hidupnya terkuras dengan cepat, tetapi secercah tekad menyala dalam dirinya.

Kaisar mencabut cakar miliknya. Tubuh Yora yang tak bernyawa tergeletak di tanah, ditinggalkan oleh kaisar yang menikmati kesenangan sadisnya. Kemarahan Mac meluap, memicu keinginannya untuk membalas dendam.

Dengan jeritan buas, dia mengencangkan cengkeramannya pada pedangnya, buku-buku jarinya memutih. Pada saat itu, semua pikiran rasional lenyap, hanya menyisakan keinginan membara untuk membalas dendam pada perwujudan kejahatan di hadapannya.

Dalam gerakan cepat, Mac kembali berdiri dan menerjang ke arah kaisar iblis, pedangnya berkilauan penuh tantangan. Itu adalah gerakan putus asa, lahir dari tekad yang kuat dan penolakan untuk menerima kekalahan. Dia tahu peluangnya untuk bertahan hidup tipis, tetapi kebutuhan untuk melukai kaisar sekecil apa pun menguasainya.

Namun, saat pedang Mac berbenturan dengan cakar kaisar iblis, menjadi jelas bahwa serangannya sia-sia. Kaisar dengan mudah menepis serangan lemah Mac dan dengan cepat membalas. Dengan ayunan cakar lainnya yang mengancam, ia mengincar leher Mac, mengakhiri hidupnya dalam satu gerakan cepat.

Waktu seakan melambat saat tubuh Mac ambruk ke tanah. Dunia di sekitarnya menjadi kabur. Ia masih bisa mendengar tawa mengerikan kaisar iblis yang bergema di telinganya. Itu adalah tawa tanpa kemanusiaan, suara yang membuat bulu kuduknya merinding bahkan di saat-saat terakhirnya.

“MAC!” Teriakan pilu Gil menusuk udara, dipenuhi campuran kesedihan dan amarah. Itu adalah teriakan keputusasaan, dipicu oleh kesadaran bahwa mereka kehilangan pemimpin dan rekan mereka ke dalam cengkeraman kaisar yang kejam.

Dalam luapan amarah kolektif, anggota tim Mac yang tersisa menerjang kaisar. Hati mereka terbakar dengan tekad untuk membalas dendam atas teman-teman mereka yang gugur, untuk menentang rintangan luar biasa yang menghadang mereka. Namun keberanian mereka disambut dengan ketidakpedulian dingin dari kaisar.

Dengan ketepatan yang cepat dan brutal, kaisar iblis mengalihkan perhatiannya ke tim Mac, seringai sadis terbentang di wajahnya. Dia menikmati upaya sia-sia mereka untuk menantang kekuasaannya, mencabik-cabik daging mereka, dan meninggalkan jejak kehancuran dan keputusasaan. Satu per satu, bar HP mereka anjlok, kekuatan hidup mereka terkuras dengan setiap serangan tanpa ampun.

Medan perang berlumuran darah mereka, sebuah bukti kekejaman pemerintahan kaisar.

Mac hanya bisa menyaksikan dengan putus asa dan tak berdaya saat kaisar melampiaskan amarahnya kepada teman-temannya. Pemandangan bar nyawa mereka yang menipis dengan cepat, tubuh mereka yang kejang-kejang kesakitan, membuatnya dipenuhi campuran kesedihan dan penyesalan diri. Bagaimana ini bisa terjadi? Bagaimana dia telah mengecewakan timnya?

Di tengah kekacauan, matanya tertuju pada tubuh Yora yang tak bernyawa tergeletak di dekatnya. Senyum tenangnya di tengah kekacauan itu sangat kontras dengan kehancuran yang mengelilingi mereka. Seolah-olah dia menyimpan rahasia, pesan harapan, hanya untuknya. Pemandangan itu membangkitkan sesuatu yang dalam di hati Mac, secercah tekad di tengah kegelapan pikirannya.

‘Mengapa kau tersenyum padaku?’ tanyanya dalam hati. ‘Aku telah gagal. Aku seorang pemimpin yang tidak berguna dan menyedihkan,’ celanya pada diri sendiri.

Hati Mac terasa sakit setiap kali nyawa melayang, setiap kali suara rekan seperjuangan dibungkam. Ia tak bisa menahan rasa bersalah dan tanggung jawab yang mendalam atas nasib mereka. Mereka telah mempercayainya untuk memimpin, membimbing mereka melewati bahaya dunia virtual ini. Namun, di sinilah mereka, tubuh mereka tergeletak di medan perang, bukti kegagalannya.

Namun, wajah mereka menceritakan kisah yang berbeda. Tidak ada jejak penyesalan atau kekecewaan yang terukir di raut wajah mereka. Sebaliknya, tekad seorang pejuang terpancar dari mata mereka, tekad teguh yang menyatakan bahwa mereka telah memberikan segalanya dalam pertempuran ini. Mereka telah bertarung dengan gagah berani dan tak tergoyahkan, terlepas dari hasilnya.

Itu adalah pengingat diam-diam bahwa bahkan dalam kekalahan, tidak ada ruang untuk penyesalan.

Tatapan Mac beralih dari satu rekan yang gugur ke rekan lainnya, wajah mereka terukir dalam ingatannya. Masing-masing merupakan bagian penting dari tim mereka, seorang teman dan sekutu yang sangat ia hargai. Pengorbanan mereka tidak sia-sia; itu adalah bukti semangat pantang menyerah dan kesetiaan mereka yang tak tergoyahkan.

Pada saat kesadaran itu muncul, gelombang tekad dan ketahanan menyelimuti Mac. Dia mengerti bahwa ini bukan hanya tentang hasil dari pertempuran khusus ini, tetapi tentang perjalanan yang lebih besar yang telah mereka mulai bersama. Ini tentang perjuangan yang mereka hadapi sebagai sebuah tim, pelajaran yang mereka pelajari, dan ikatan yang mereka jalin di sepanjang jalan.

Mac mengakui kesalahan dan kekurangannya sebagai seorang pemimpin. Dia telah goyah, tersandung, dan gagal melaksanakan rencananya secara efektif. Tetapi di mata rekan-rekannya yang gugur, dia melihat keyakinan dan kepercayaan yang tak tergoyahkan. Mereka telah berdiri di sisinya hingga akhir, tidak pernah meragukan kemampuannya untuk memimpin mereka menuju kemenangan.

‘Ya… Hari ini mungkin kekalahan yang telak, tapi tidak selamanya,’ pikir Mac.