Bab 211 – Kecemburuan Sang Penyembuh [Bagian 4]
Penjahat Bab 211. Kecemburuan Sang Penyembuh [Bagian 4]
Dia tak bisa mengalihkan pandangannya dari kedua model itu, rasa sakit hatinya semakin memuncak setiap saat.
“Allen…” Namanya terucap dari bibirnya dengan nada lirih dan melankolis, mengandung campuran kesedihan dan kepahitan. Mata Sophia menatapnya lama, pikirannya dipenuhi kenangan pertemuan mereka di restoran. Gadis di sampingnya, yang namanya tidak ia ketahui, terukir dalam ingatannya sebagai orang yang telah menjemputnya.
Kecemburuan mencengkeramnya dari dalam, api membara yang mengancam untuk melahapnya. Bagaimana mungkin dia tidak merasakannya? Melihat mereka bersama, tubuh mereka saling berjalin dalam tarian artistik dan emosi yang memikat, mengirimkan gelombang kerinduan dan keputusasaan yang menghantamnya. Ketidakpedulian mereka terhadap kehadirannya, yang berdiri agak terpisah dari mereka, hanya memperdalam penderitaannya.
Pikiran Sophia berkecamuk, bergulat dengan pusaran emosi. Ia tak bisa menahan diri untuk tidak bertanya-tanya bagaimana rasanya berada di posisi gadis itu, memiliki perhatian Allen yang terfokus sepenuhnya padanya. Kecemburuannya dipicu oleh campuran kerinduan dan rasa tidak aman, mendambakan hubungan yang tampaknya berada di luar jangkauannya.
Hatinya semakin hancur saat menyaksikan adegan intens yang terjadi di hadapannya. Allen dan Vivian saling berhadapan, tubuh mereka seolah ditarik bersama oleh kekuatan tak terlihat. Tangan Allen bertumpu posesif di belakang kepala Vivian, jari-jarinya terjalin di rambutnya, mengendalikan gerakannya secara halus.
Mata Sophia tertuju pada kedekatan bibir mereka, keintiman yang menggoda yang mengancam untuk menjembatani jarak di antara mereka. Bibir Allen melayang sangat dekat dengan tulang selangka Vivian, hampir menyentuh kulitnya dengan cara yang menunjukkan keinginan untuk meninggalkan tanda, sebuah ciuman, sebagai simbol hubungan mereka.
Matanya yang tajam dan berwibawa menatap langsung ke kamera, memancarkan aura dominasi yang tak terbantahkan. Senyum licik teruk di bibirnya, mengisyaratkan rahasia tersembunyi dan keinginan terlarang.
Pada saat itu, daya tarik Allen tak terbantahkan. Kemeja yang setengah terbuka yang dikenakannya semakin memperkuat daya tarik magnetis yang dipancarkannya, memperlihatkan sekilas dada bidangnya dan mengisyaratkan kekuatan serta sensualitas yang tersembunyi di balik penampilan luarnya.
Pose tersebut, dengan nuansa dominasi dan rayuan yang halus, membuatnya tampak hampir seperti vampir, makhluk malam yang memancarkan bahaya sekaligus daya tarik.
Hati Sophia terasa bergejolak dengan berbagai emosi saat ia menyaksikan kedekatan antara Allen dan Vivian terungkap di depan matanya.
‘Tidak… Lepaskan tanganmu dari gadis itu, Allen. Kumohon…’ Pikiran Sophia menjerit kes痛苦an saat ia menyaksikan adegan itu terjadi di hadapannya. Dadanya terasa sesak, mencekiknya dengan campuran rasa cemburu, patah hati, dan pasrah.
Ia sangat ingin mengungkapkan perasaannya, berteriak dan menuntut agar Allen melepaskan Vivian. Tetapi ia tahu itu akan sia-sia. Hubungan mereka telah berakhir, dan ia tidak berhak lagi mengklaim Allen. Allen bebas untuk menjalin hubungan dengan wanita lain. Kesadaran itu menusuk hatinya, memperparah rasa sakit yang mencekamnya.
Sophia mengepalkan tinjunya, kukunya menancap ke telapak tangannya. Dia menahan air mata, tidak ingin menunjukkan kerapuhannya di depan semua orang yang hadir. Sulit baginya untuk menjaga ketenangan, untuk menekan badai yang berkecamuk di dalam dirinya. Dia mengingatkan dirinya sendiri akan kata-kata Allen kemarin, kebenaran pahit yang menusuk jiwanya.
Babak dalam hubungan mereka telah berakhir, dan dia harus menerimanya, betapapun menyakitkannya.
Saat fotografer memberikan arahan lebih lanjut, Allen dan Vivian menyesuaikan posisi mereka, beralih dengan mulus ke pose intim gelap lainnya. Kali ini, sebuah properti ikut berperan—pistol palsu yang diarahkan langsung ke kamera. Suasana menjadi lebih gelap, dipenuhi dengan rasa bahaya dan misteri.
Sophia hanya bisa menyaksikan dengan campuran kekaguman dan kesedihan. Ironisnya, pose-pose ini adalah saran-saran darinya sendiri, referensi yang telah ia pilih dengan cermat dan kirimkan melalui email. Rasanya seperti pisau bengkok yang menusuk hatinya.
Tiba-tiba, kegembiraan yang tadinya membara dalam diri Sophia sirna, meninggalkan rasa rindu dan sakit yang mendalam. Pemandangan yang terbentang di hadapannya menjadi tak tertahankan, dan yang diinginkannya sekarang hanyalah melarikan diri dari tempat itu secepat mungkin.
Karena sangat membutuhkan penghiburan, suara Sophia yang gemetar terdengar oleh Tuan Bell, yang berdiri di dekatnya. Ia mencondongkan tubuh lebih dekat, berharap Tuan Bell akan memahami kesedihannya. “Permisi,” bisiknya, suaranya dipenuhi sedikit kerentanan. “Saya… saya rasa saya perlu ke kamar mandi.” Kata-katanya bergetar, menunjukkan air mata yang hampir tumpah dari matanya.
Di studio yang remang-remang itu, dia masih bisa menyembunyikan rasa sakitnya, setidaknya untuk sesaat.
Tuan Bell mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke Sophia. “Toiletnya ada di ujung lorong sebelah kiri,” bisiknya sepelan mungkin.
Sophia mengangguk, matanya masih basah oleh air mata yang belum tumpah. “Terima kasih, Tuan Bell,” ucapnya lirih, suaranya tercekat karena emosi. Ia berbalik, langkahnya gemetar saat buru-buru meninggalkan ruangan, berusaha keras untuk melarikan diri dari pemandangan yang memilukan yang terbentang di hadapannya.
Saat berjalan menyusuri koridor, pikiran Sophia dipenuhi campuran amarah, kesedihan, dan kerinduan yang bergejolak. Bayangan Allen dan Vivian, pose intim mereka dan cara mereka dengan mudah mewujudkan emosi yang diinginkan, terus berputar di benaknya.
Akhirnya, ia sampai di kamar mandi, tempat perlindungannya dari kekacauan di luar. Mendorong pintu hingga terbuka, ia memasuki ruangan yang tenang itu. Sophia menemukan bilik yang kosong dan mengunci pintu di belakangnya.
Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri saat air mata terus mengalir. Ia bersandar di dinding bilik toilet, hatinya terasa berat dengan campuran emosi yang bertentangan. Kesejukan permukaan ubin menawarkan kenyamanan sesaat di tengah gejolak batinnya.
“Dia bukan milikmu lagi,” ulangnya, suaranya hampir tak terdengar. “Kau seharusnya tidak cemburu,” bisiknya pelan.
Dia tahu dia harus menerimanya, untuk melanjutkan hidup setelah hubungan mereka hancur berantakan. Tetapi rasa sakit di dadanya, kerinduan mendalam yang masih membekas, membuatnya sulit untuk melepaskan semuanya sepenuhnya.
Rasa bersalah menyelimutinya saat ia menc责 diri sendiri karena merasa cemburu. Ia tahu itu tidak masuk akal, bahkan irasional. Lagipula, mereka sudah tidak bersama lagi. Allen telah menjelaskan hal itu dengan sangat jelas, dan Sophia tidak berhak lagi mengklaimnya. Namun, hatinya memberontak melawan logika, berpegang teguh pada serpihan dari apa yang pernah ada.