Bab 1694: Haus
Penjahat Bab 1694. Haus
Kaisar Iblis tertawa terbahak-bahak sekali lagi—tawa yang tak terkendali dan penuh kemenangan. “Semoga kisah cinta kalian bergema di setiap dinding terkutuk di tempat ini.”
Dia menoleh ke arah pengantin wanita, yang masih dirantai tetapi sekarang berkedip lemah. Matanya bertemu dengan matanya—ketakutan, kebingungan.
Seharusnya dia sudah tidak hidup lagi.
Ia memiringkan kepalanya, mengamatinya seperti seorang seniman yang memeriksa lukisan yang belum selesai. Cahaya altar yang berkedip-kedip mengenai pipinya yang pucat, bulu matanya yang gemetar. Darah menggenang di bawahnya, gelap dan encer seperti tinta. Napasnya tersengal-sengal, lemah, dan terputus-putus. Hampir tak cukup untuk disebut hidup. Bibirnya sedikit terbuka, tetapi tidak ada suara yang keluar—hanya hembusan napas kering yang berbau seperti halaman terakhir sebuah doa.
Kaisar kembali berjongkok di sampingnya, bukan seperti penyelamat, bukan seperti iblis. Hanya seorang pria yang menikmati momen itu.
“Nah, sekarang…” bisiknya, jari-jarinya menyusuri tepi altar yang retak dengan lembut. “Apa yang harus kulakukan denganmu?”
Tidak ada yang menjawab.
Sang pengantin wanita tak berdaya. Denyut nadinya begitu lemah, begitu redup, sehingga ia hampir tak bisa merasakannya.
“Tubuhmu sudah pergi ke neraka,” gumamnya, suaranya rendah dan hampir lembut. “Atau mungkin surga. Sulit untuk mengatakannya. Bagaimanapun juga… kau pada dasarnya sudah mati.”
Dia membungkuk.
Wajahnya melayang di atas wajah wanita itu, cukup dekat sehingga napasnya—yang tersisa sedikit—menyentuh bibirnya. Matanya menyipit. Senyumnya semakin lebar.
“Atau setidaknya,” bisiknya, “jantungmu telah mati. Itu sudah jelas.”
Dia menghembuskan napas perlahan dan menarik napas lagi, di dekat lehernya. Aromanya samar—lebih samar dari seharusnya. Tapi masih ada. Dia mengendus sekali, dua kali.
“Mm… ya,” gumamnya. “Sudah pasti mati. Tapi…”
Senyumnya semakin tajam.
“Aku mencium sesuatu yang lain. Sesuatu yang baru.”
Dia duduk berjongkok, seperti seorang pemburu yang baru menyadari bahwa mangsanya telah tumbuh gigi.
“Kau tidak seperti yang lain, kan?” katanya. “Kau pernah melihat dunia sebagai sesuatu yang suci. Murni. Terang dan gelap. Benar dan salah.”
Dia mencondongkan tubuh ke depan lagi, lebih dekat.
“Tapi ada sesuatu yang berubah dalam dirimu,” gumamnya, sambil mengusap pipinya dengan ujung jari yang dingin. “Kau tak lagi melihat hitam dan putih.”
Dia tersentak.
Dia menyeringai lebih lebar.
“Kau mulai melihat warna abu-abu, bukan?” katanya, matanya kini bersinar samar. “Kau jatuh cinta padaku.”
Kata-kata itu menetes seperti racun. Atau parfum.
“Bukankah begitu, Saint?”
Mulut pengantin wanita terbuka. Tak ada kata yang keluar.
Tapi kemudian—dia tertawa.
Atau setidaknya mencoba.
Suara berderak yang terputus-putus keluar dari tenggorokannya. Terdengar seperti pecahan kaca yang disapu di atas batu.
Kaisar tersenyum lebih lebar. “Itu dia. Musik yang menyejukkan telinga.”
Matanya tidak terpejam.
Mereka hanya menatapnya. Setengah ngeri. Setengah lagi karena mengenali. Sebagian dari dirinya masih berpegang teguh pada kebenaran.
Namun bagian lainnya? Bagian itu sudah menyerah.
Dia berdiri perlahan. Bayangannya menyelimutinya seperti tirai.
“Aku tak bisa membangkitkan orang mati,” katanya, setengah kepada wanita itu, setengah kepada katedral itu sendiri. “Tapi tempat ini?”
Dia melirik ke sekeliling.
Dinding gelap. Kaca patri yang bengkok. Rangkaian listrik terkutuk yang menembus batu suci. Tulang-tulang orang suci yang meleleh bersama roda gigi mesin. Ukiran suci yang ditulis ulang oleh kegilaan.
“Katedral ini berhutang budi padaku.”
Dia mengangkat tangan.
“Aku penasaran,” katanya, “apakah ia masih mengingat belas kasihan.”
Dia membuka jari-jarinya.
Kegelapan melingkari telapak tangannya.
Bisikan-bisikan meninggi—puluhan, lalu ratusan. Gema jiwa-jiwa yang terbakar hidup-hidup dalam baju zirah suci. Jeritan sunyi para pengantin wanita yang tak pernah kembali ke pelaminan. Amarah para ksatria terkutuk yang berubah menjadi boneka patuh. Semuanya melonjak maju.
Dia membisikkan sesuatu yang pelan dan kuno, sesuatu yang tidak pantas diucapkan oleh lidah manusia biasa.
Lalu semakin keras, suaranya meninggi.
“Katedral,” katanya. “Kasihanilah orang suci ini. Berikan padanya apa yang kau tolak kepada yang lain. Biarkan dia hidup.”
Kegelapan itu menyerang dengan dahsyat.
Benang-benang hitam, seperti asap yang direndam racun, menyembur dari dinding dan balok katedral. Benang-benang itu berputar ke segala arah, menarik ingatan, darah, dan rasa sakit menuju altar.
Sang pengantin wanita tersentak saat sulur-sulur itu mengenai dadanya.
Altar itu bersinar—kini pucat dan merah, seperti luka yang terinfeksi. Ukiran-ukiran di bawahnya melengkung. Duri-duri besi retak dari lantai dan meleleh lagi, bergetar karena panas.
Kemudian-
Semuanya masuk ke dalam dirinya.
Kegelapan. Dendam. Kebencian dari setiap suara yang terlupakan di tempat ini. Itu menusuknya seperti jarum menembus sutra.
Dia menjerit.
Kali ini, sungguh-sungguh.
Punggungnya melengkung menjauh dari altar, rambutnya berkibar ke segala arah saat kekuatan gelap membanjiri pembuluh darahnya. Kukunya mencakar udara. Anggota tubuhnya gemetar tak terkendali.
Kaisar Iblis hanya menonton.
Tenang. Diam. Tersenyum.
Transformasi itu tidak terasa seperti kematian. Rasanya seperti kebangkitan.
Tulang rusuknya retak, lalu sembuh. Kulitnya memerah. Tenggorokannya berdenyut hebat sekali. Lalu menjadi tenang.
Lalu lagi. Lebih lambat.
Namun, sekali lagi—lebih kuat.
Napasnya kembali tersengal-sengal, terputus-putus. Matanya terbuka. Terlalu lebar. Bersinar samar-samar dengan sesuatu yang tidak suci.
Rantai yang mengikatnya meleleh.
Tangannya berkedut.
Dia duduk—perlahan, goyah. Seperti bayi baru lahir yang tenggelam dalam napas.
Tatapannya beralih ke arahnya.
Dia tersentak.
Tapi bukan karena rasa sakit.
Karena haus.
Dia langsung menangkapnya.
Bibirnya bergetar. Mulutnya terbuka—tetapi dia menghentikan dirinya sendiri. Rahangnya mengatup. Dia menekan tangannya ke dadanya seolah-olah dia bisa mengusir rasa haus itu.
“Tidak,” katanya dengan suara serak. “Aku… aku tidak akan…”
Suaranya serak. Tapi penuh per defiance.
Kaisar mengangkat alisnya. “Masih berusaha mempertahankan kemanusiaanmu?”
Dia tidak menjawab.
Namun matanya terus melirik ke lehernya. Pergelangan tangannya. Darah yang berdenyut di sana.
Dia menghela napas, dengan dramatis.
Lalu tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia meraih altar dan mengambil pecahan kaca patri yang hancur.
Ujung yang tajam itu berkilauan di bawah cahaya terkutuk.
Lalu—dia mengiris pergelangan tangannya sendiri.
Baunya menyebar di udara.
Tebal.
Manis.
Lembut dan panas seperti janji terlarang.
Darahnya menetes perlahan di tangannya.
Napas pengantin wanita tertahan.
Kepalanya tersentak menjauh. Dia melihat ke mana saja kecuali ke arahnya.
“Kau yakin?” tanya Kaisar Iblis pelan. “Karena kau berbau kelaparan.”
Dia menggertakkan giginya. Kukunya mencengkeram telapak tangannya. Kakinya gemetar.
Darahnya memercik ke lantai batu.
Aroma itu semakin pekat.
Dan lebih gelap.
Tenggorokannya berkedut.